Ibu Said, seorang agen penjual gas di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan menuturkan kisahnya menjual elpiji 3 kg dan elpiji 12 kg. Karena konsumennya yang kebanyakan adalah warung-warung makan, pedagang makanan keliling, dan konsumen rumah tangga, elpiji 3 kg lah yang menjadi pilihan.
"Di sini masyarakat banyak pedagang kecil, seperti warteg, warung mie, kalau yang 12 kg itu berat (harganya)," katanya kala berbincang dengan detikFinance, Selasa (20/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tabung elpiji 3 kg yang dia jual saat ini hanya dibanderol Rp 17 ribu. Jika dikalikan empat tabung, maka harganya menjadi Rp 68 ribu, jauh lebih murah dibanding harga elpiji Rp 12 kg yang mencapai Rp 129.700/tabung di agen, dan di konsumen bisa mencapai Rp 135-140 ribu.
"Kalau lebih murah seperti itu, masyarakat larinya ke mana? Ke tabung 3 kg," tuturnya.
Hal itu dibuktikan dengan volume penjualan elpiji 3 kg yang jauh lebih banyak dibanding yang 12 kg. Dalam dua hari, Ibu Said mengaku bisa menjual 200 tabung elpiji 3 kg, baik dibawa oleh konsumen, pedagang atau pengecer lainnya. Perputaran rupiah di penjualan elpiji 3 kg pun jauh lebih cepat.
"Kalau yang 12 kg kadang dua atau tiga tabung. Kadang nggak sama sekali. Waktu harga belum naik, saat masih Rp 95 ribu, itu bisa sampai 9 tabung," katanya.
Setelah harga elpiji 12 kg beberapa kali naik sejak awal tahun lalu, dia pun mengurangi pembelian tabung elpiji berwarna biru itu. Di sisi lain, ia menambah pasokan untuk tabung elpiji 3 kg.
"Sebelum gas (12 kg) naik, tabung melon (3 kg) saya hanya 100. Sekarang gas naik, saya tambah tabung melon jadi 200 tabung. Ada yang mau tukar yang 12 kg jadi 3 kg saya nggak mau," katanya.
Sama halnya dengan Yosiana, agen penjual gas di Mampang, Jakarta Selatan. Menurutnya, tabung 12 kg laku hanya di segmen tertentu saja.
"Kayak di restoran padang itu, dia tidak mungkin pakai yang 3 kg, bisa habis berapa itu dalam sebulan," tuturnya.
(zul/ang)











































