Berdasarkan data perdagangan Reuters, harga minyak jenis Light Crude untuk pengiriman Februari 2015 berada di posisi US$ 46,79/barel. Sementara harga minyak Brent adalah US$ 48,23/barel.
Harga minyak yang terus anjlok berdampak pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor ini. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai perusahaan minyak terus merebak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baker Hughes adalah perusahaan yang menydiakan peralatan dan berbagai jasa kepada perusahaan-perusahaan minyak. Harga minyak yang anjlok membuat aktivitas eksplorasi turun drastis, sehingga mempengaruhi bisnis Baker Hughes.
"Industri ini sudah jelas berada dalam siklus menurun. Ini merupakan siklus yang terjadi 1-2 kali dalam 10 tahun," kata Martin Craighead, CEO Baker Hughes.
Dengan mem-PHK 7.000 karyawan, Baker Hughes mengklaim bisa menghemat sampai US$ 185 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun. PHK rencananya dilakukan secara bertahap mulai kuartal I-2015.
Baker Hughes sepertinya agak putus asa. Selain mengurangi karyawan, Baker Hughes juga dikabarkan sepakat untuk diakuisisi oleh perusahaan pesaingnya, Halliburton.
"Kita tidak bisa begitu saja menunggu harga minyak naik lagi ke US$ 100/barel. Jadi, kita semua harus beradaptasi dengan harga komoditas yang rendah," lanjut Craighead.
Baker Hughes bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan PHK massal. Schlumberger juga berencana melakukan PHK kepada 9.000 orang karyawan, sementara Civeo (penyedia perumahan untuk pegawai perusahaan minyak) juga akan mem-PHK 1.000 orang.
Penurunan harga minyak memang berdampak positif bagi konsumen, karena harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga ikut turun. Indonesia pun mengalaminya. Namun di sisi lain, hal ini bukan lah kabar baik bagi para pelaku industri perminyakan.
(hds/hen)











































