Menteri ESDM Sudirman Said memberikan penjelasan di depan Anggota Komisi VII DPR, soal langkah mempertahankan Petral yang bertugas mengimpor BBM ini.
"Kenapa Petral nggak dibubarkan? Akhirnya Petral diganti baru. Ini pilihan politik. Akhirnya manajemennya ditata. Masalah manajemen adalah masalah mendasar. Baru pekan lalu ada RUPS (rapat umum pemegang saham) Petral, diganti direksinya," tutur Sudirman dalam rapat di ruang Komisi VII, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam SK tersebut, lanjut Sudirman, Petral bisa membeli minyak atau BBM melalui NOC (National Oil Company) atau perusahaan minyak milik suatu negara, meski NOC tersebut bukan produsen.
Menurut Sudirman, SK ini membuat celah untuk persembunyian pedagang atau trader minyak. Karena itu, SK tersebut dicabut.
Pemerintah juga mendorong Pertamina untuk membeli minyak dari produsen-produsen alternatif seperti dari Angola. Pembelian ini dilakukan secara langsung tanpa perantara.
"Jadi dorongan bubarkan Petral itu gimick politik. Kalau fungsi sayang betul. Itu tinggal didandani saja. Kalau pilihan politik ya dibubarkan, tapi didandani saja. Dalam tim transisi muncul pembuburan Petral. Tapi ada pertimbangan lain, baiknya diluruskan sebagai trading company," papar Sudirman.
(dnl/hen)











































