Direktur Gas dan Energi Baru Terbarukan Pertamina Yenny Andayani mengatakan, impor dilakukan karena kebutuhan gas domestik yang sangat tinggi, terutama untuk listrik dan industri.
"Kita mulai impor LNG pada 2018," kata Yenny ditemui Indonesia Gas Conference & Exhibition (Indogas) ke-7 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (27/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasokannya gasnya ada dari Afrika sebanyak 1 MTPA, dari North America (Amerika Utara) sebanyak 1,52 MTPA, dari Asia dan Australia sebanyak 0,5 MTPA, dari dalam negeri seperti Tangguh, Papua dan LNG Bontang sebanyak 1,4 MTPA. Serta sisanya dari perusahaan gas internasional seperti Mitsui dan Tokyo Gas," ungkapnya.
Tentunya, kata Yenny, selain impor LNG, Pertamina juga memerlukan terminal penerima gas LNG dan regasifikasi gas, seperti FSRU.
"Kita sudah punya FSRU Jawa Barat, akan kita tambah lagi FSRU di Cilacap, ada lagi yang masih kita review FSRU Cilamaya, dan LNG di Bali," ungkapnya.
"Kita juga akan membangun jaringan pipa gas yang menghubungkan FSRU Jawa Barat, FSRU Cilacap, dan FSRU Cilamaya. Kita juga sudah bangun jaringan pipa dari FSRU Jawa Barat hingga ke Trans Sumatera sampai Arun," katanya.
(rrd/dnl)











































