Perusahaan ini membatalkan rencana investasi mereka senilai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 180 triliun dalam 3 tahun ke depan, gara-gara harga minyak dunia yang turun tajam.
Saat ini minyak diperdagangkan sekitar US$ 45 per barel, turun dari Juli 2014 lalu di atas US$ 100 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Shell punya pilihan untuk melakukan pemangkasan lebih jauh lagi. Namun kami tidak bereaksi berlebihan dengan harga minyak yang rendah saat ini," demikian pernyataan Shell yang dilansir dari CNN, Kamis (29/1/2015).
Memang sejumlah perusahaan energi dunia juga sudah mengumumkan rencana pemangkasan investasi dan jumlah pekerja, karena penurunan harga minyak.
Bulan ini, BHP Billiton merencanakan memangkas 40% operasinya di AS. Schlumberger juga berencana untuk memangkas 9.000 karyawan.
Total, raksasa energi asal Prancis, juga berencana untuk memangkas investasinya 10% tahun ini.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya akan memangkas dana investasi di hulu migas hingga US$ 4 miliar. Ini karena turunnya harga minyak dunia.
"Pertamina harus melakukan efisiensi, tahun ini kita akan laksanakan konsolidasi yang dari rencana investasi hulu US$ 5-7 miliar, kita akan tekan hingga jadi US$ 3-5 miliar, ini yang sedang kita evaluasi," ucap Dwi.
Dwi mengatakan, walaupun dana investasi hulu dipangkas tahun ini hingga US$ 4 miliar, hal tersebut tidak akan membuat produksi minyak dan gas Pertamina turun.
"Tidak akan pengaruh pada produksi migas kita. Dana itu yang terkait dengan business development," ucapnya.
(dnl/hen)











































