Presiden Director and CEO PT Medco Energi Internasional Tbk (MDCO) Lukman Mahfoedz mengungkapkan, penyebab utama penurunan harga minyak dunia saat ini, karena pasokan minyak dunia berlebih, sementara kebutuhan minyak dunia justru menurun.
"Pasokan minyak dunia bertambah besar disebabkan faktor utamanya, karena peningkatan produksi shale oil dari Amerika Serikat," ujar Lukman kepada detikFinance, Senin (2/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan Amerika Serikat mengembangkan shale oil berdampak juga pada berkurangnya impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). Asal tahu saja Amerika sebelumnya merupakan salah satu negara yang sangat banyak impor BBM.
Dan, produksi shale oil ini telah tumbuh sekitar 4 juta barel per hari (mmbopd) sejak tahun 2008.
"Saat ini, total produksi minyak Amerika sudah mencapai 9 juta barel per hari. Impor minyak Amerika dari OPEC (asosiasi negara produsen minyak), telah berkurang setengahnya. Dan, untuk pertama kalinya dalam 30 tahun harga minyak ke depan akan stabil di level ini, bahkan 2-3 tahun ke depan bila harga minyak stabil di atas US$ 80 per barel, Amerika Serikat akan bisa berubah dari yang saat ini net importer menjadi net exporter minyak," ungkap Lukman.
Sementara di sisi lain, walau pasokan minyak mentah sangat berlebihan kata Lukman, Arab Saudi tidak mau memangkas produksi minyaknya.
"Arab Saudi masih tetap mempertahankan tingkat produksi minyaknya di atas 9,5 juta barel per hari," kata Lukman.
Bahkan ujarnya, Arab Saudi mengobral harga minyaknya. Tujuannya untuk tetap menjaga pangsa pasarnya sebagai pemasok terbesar minyak mentah dunia.
"Bahkan Arab Saudi bersedia menurunkan harga jual minyak mereka ke pasar internasional, hanya untuk mempertahankan pangsa pasar yang selama ini mereka punya. Total kebutuhan minyak dunia sat ini sekitar 91 juta barel per hari," jelasnya.
Di sisi lain lagi kata Lukman, produsen minyak mentah lainnya yakni Libya kembali memasok produksinya ke pasar minyak internasional. Setelah sebelumnya produksi minyak negara tersebut anjlok karena gejolak politik.
"Total hingga Juni/Juli 2014 produksi minyak Libya mencapai 1-1,2 juta barel per hari. Saat ini produksi mereka masih sekitar 300.000 barel per hari, namun diperkirakan akan meningkat terus pada di 2015-2016," tutup Lukman.
(rrd/ang)











































