'Meski Harga Minyak US$ 20/Barel, Arab Saudi Masih Untung'

'Meski Harga Minyak US$ 20/Barel, Arab Saudi Masih Untung'

- detikFinance
Senin, 02 Feb 2015 10:58 WIB
Meski Harga Minyak US$ 20/Barel, Arab Saudi Masih Untung
Jakarta - Harga minyak dunia di awal tahun anjlok hingga di bawah US$ 50/barel, dari posisi tertingginya di Juli 2014 yang di atas US$ 100/barel. Posisi harga minyak ini masih menguntungkan buat Arab Saudi.

Penurunan harga minyak yang dalam ini, membuat produk shale oil di Amerika Serikat, dan juga minyak yang diproduksi oleh negara lain menjadi tidak ekonomis. Karena biaya produksi lebih tinggi dari harga jualnya. Namun ini tidak berlaku untuk Arab Saudi.

Presiden Direktur dan CEO PT Medco Energi Internasional Tbk Lukman Mahfoedz mengatakan, di tengah harga minyak yang berada sekitar US$ 45-50 per barel, Arab Saudi sama sekali tidak mau memangkas produksinya. Negara tersebut tetap mempertahankan produksi minyak 9 juta barel/hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahkan untuk tetap mempertahankan pangsa pasarnya sebagai pemasok minyak terbesar, Arab Saudi bersedia menurunkan harga jual minyak mereka di pasar internasional," kata Lukman kepada detikFinance, Senin (2/2/2015).

Lukman mengatakan, hal tersebut diskon harga dapat dilakukan Arab Saudi, karena meski harga minyak anjlok menjadi US$ 45-50 per barel, negara tersebut masih untung.

"Secara teknis biaya pengoperasian dan pengeboran sumur relatif lebih murah, dan dengan cadangan minyak yang sangat besar, membuat biaya produksi minyak Arab Saudi sangat kompetitif. Biaya produksi mereka hanya US$ 10-17 per barel," ungkapnya.

"Bahkan, dengan harga minyak US$ 20 per barel, masih ada margin keuntungan yang di dapatkan Saudi Arabia," sambungnya.

Ia menambahkan, hal ini berbeda kondisinya dengan proyek-proyek shale oil di AS, walau produksinya banyak, bila harga di bawah US$ 50 per barel, banyak industri shale oil di AS sudah mulai berhenti produksinya, karena biaya produksi sudah melampaui harga jual.

"Saudi Arabia berkeras mempertahankan pangsa pasar minyak dunia sekitar 13%, dari konsumsi minyak dunia saat ini 91 juta barel per hari. Sehingga mereka berkepentingan untuk menghambat pasokan baru minyak ke pasar dunia, terutama shale oil Amerika Serikat. Caranya adalah dengan terus mempertahankan pasokan minyak ke pasar internasional, dan bahkan memberikan diskon harga. Apabila tidak demikian, maka produksi Amerika Serikat akan melebihi Arab Saudi dalam waktu mendatang, dan Arab Saudi akan kehilangan pasarnya," tutup Lukman.

Posisi hari ini, harga kontrak minyak jenis Brent adalah US$ 51,45/barel. Sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) adalah US$ 46,73/barel. Kedua jenis minyak ini turun US$ 1,15/barel.

Turunnya harga minyak hari ini karena adanya rencana mogok kerja sejumlah serikat pekerja minyak di AS.

(rrd/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads