"Kalau illegal tapping, Sumatera Selatan (Sumsel) dan Riau ini menjadi sasaran," ujar Yanto Sianipar, Senior VP Policy, Government, & Public Affaris Chevron Pacific Indonesia, di Bandara Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, Kamis (12/2/2015).
Aparat keamanan, lanjut Yanto, sudah sering melakukan penindakan. "Tapi kalau sedang ramai diawasi, dia pindah-pindah," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Membawa minyak itu tidak bisa sembarangan. Bisa-bisa meledak. Tapi mereka bisa bawa ke mana-mana," katanya.
Awal tahun ini, menurut Yanto, kasus pencurian minyak kembali marak. "Sekarang naik lagi," ujarnya. Tetapi Yanto tidak mengetahui angka pasti kasus pencurian minyak.
Sebelumnya, aksi pencurian minyak sering dialami PT Pertamina EP di Sumsel, di pipa minyak miliknya di wilayah Tempino-Plaju sepanjang 265 Km dan pipa Prabumulih-Plaju sepanjang 92 Km. Pertamina mengklaim, pencuarian minyak di Sumsel dilakukan oleh sindikat, karena sulit menangkap pelaku utamanya.
(hds/rrd)











































