"Yang membuat kita rugi itu biaya penyimpanan BBM dan minyak mentah. Kami beli minyak mentah 2-3 bulan sebelumnya, dan ini butuh waktu 15 hari pengapalan dari Afrika, lalu ditimbun dan dimasak (kilang)," ungkap Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Jumat (13/2/2015).
Bambang mengatakan, dengan biaya penyimpanan yang cukup tinggi tersebut, harga solar saat ini Rp 6.400/liter yang sudah dikurangi subsidi Rp 1.000/liter, kerugian penjualan Pertamina cukup besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, dengan harga minyak mentah yang naik menjadi di kisaran US$ 60/barel ditambah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), maka kerugian Pertamina tentunya makin besar.
"Kami tentunya khawatir, sudah 6 tahun berturut-turut Pertamina rugi jual BBM termasuk BBM subsidi. Bisa saja tahun ini kami rugi lagi, bila harga BBM tak disesuaikan," tutur Bambang.
Berikut kerugian Pertamina dari pejualan BBM selama 6 tahun terakhir:
- 2009 rugi Rp 4,5 triliun.
- 2010 rugi Rp 3,34 triliun.
- 2011 rugi Rp 0,97 triliun.
- 2012 rugi Rp 0,84 triliun.
- 2013 rugi Rp 0,35 triliun.
- 2014 rugi Rp 3,92 triliun.











































