Petinggi Badan Pengatur Hilir Kegiatan Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengecek persiapan proyek pipanisasi gas bumi Kalimantan-Jawa fase I (Kalija I) di Batam.
Direktur Gas BPH Migs, Djoko Siswanto, melihat ribuan pipa gas yang akan dipakai untuk menyambungkan aliran gas pada proyek Kalija I. Pasalnya proyek yang awalnya dimenangkan oleh oleh PT Bakrie & Brothers Tbk di 2006 belum juga dibangun, hingga akhirnya Kementerian ESDM menugaskan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di 2014 untuk melanjutkan proyek.
Artinya, sekitar 8 tahun proyek ini mangkrak di tangan group usaha Bakrie tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah melihat keberadaan pipa yang telah dilakukan pelapisan atau coating, Djoko yakin, proyek pipanisasi Kalija I bisa segera dimulai. Proses coating dilakukan untuk menjaga ketahanan pipa dari faktor korosi.
Proses coating pipa untuk proyek Kalija I dilakukan sebanyak 80% di Bradero Shaw Indonesia, Batam, dan sebanyak 20% di Indal, Gresik.
"Setelah melihat coating, saya semakin yakin proyek bisa on schedule. Schedule awal beroperasi pada Agustus ini. Tinggal izin kapal dari Kemenhub. Izin ini untuk bawa pipa," jelasnya.
Pada kesempatan itu, Djoko menjelaskan, perihal molornya pembangunan pipa gas yang dahulu diberikan kepada Group Bakrie. Persoalan yang terjadi karena adanya tarik ulur harga jual gas. Hal ini yang membuat proses pembangunan pipa tersendat.
"Harga gas waktu itu murah. Bangun pipa tidak ekonomis. Supaya masuk keekonomian nggak ada cost recovery. Kemudian masuk 2008. Harga upstream naik, sehingga Petronas minta revisi harga. Kemudian PLN mau beli murah. Saya bilang ke PLN, selama harga lebih murah dari solar. Nggak ada alasan nggak beli," jelasnya.
Akhirnya, PLN bersedia sebagai pengguna gas dan Petronas sebagai pemasok gas telah bersepakat tentang harga jual beli gas. Alhasil, PGN melalui anak usahanya PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) akan membangun pipa Kalija I dengan diameter 14 inci sepanjang 207 kilometer.
"Sekarang semua pihak jalan, PLN ada penghematan, Petronas jalan. Multiplier effect banyak," jelasnya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama KJG Ismet Pane menjelaskan, pipa-pipa yang telah melalui proses coating nantinya akan dibawa pada titik pemasangan. Ditargetkan pada Agustus 2015 proses pemasangan pipa di laut dan darat bisa tuntas.
Saat beroperasi, pipa Kalija I mampu mengaliri gas hingga 150 MMSCFD per hari. Gas ini dialiri dari sumber gas Lapangan Kepodang di lepas Pantai Jepara menuju Pembangkit listrik PLN yakni PLTGU Tambak Lorok Semarang.
"Target Agustus tahun ini sudah beroperasi," kata Ismet.
(feb/dnl)











































