Soni, seorang pedagang gorengan seperti tahu, tempe, bakwan, cireng dan sebagainya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, mengatakan kenaikan harga elpiji 3 kg sudah terjadi sejak lebih dari sepekan.
Harga elpiji naik dari Rp 16.000-17.000/tabung menjadi Rp 20.000/tabung. Ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli satu tabung gas berwarna hijau tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soni tak bisa berbuat banyak, menurutnya kenaikan harga elpiji 3 Kg tak begitu berpengaruh terhadap penjualanan usaha gorengannya.
"Nggak begitu pengaruh juga, naiknya Rp 2.000. saya pakai 2 tabung per hari. Jadi ada tambahan biaya Rp 4.000/hari, nggak apa-apa. Gorengannya biasa nggak dikecilin dan nggak dimahalin juga," katanya.
Namun Soni berharap, kenaikan harga elpiji 3 Kg tak boleh berlanjut. Bila berlanjut, Soni khawatir akan mempengaruhi usahanya. "Kalau bisa jangan terus naik, yang wajar saja," jelasnya.
Setelai tiga uang dengan Soni, Ade yang juga pedagang gorengan di kawasan Cililitan menuturkan, kenaikanelpiji 3 kg yang dialaminya belum begitu berpengaruh pada usahanya sekarang.
"Masih biasa saja. Kalau pembeli sepi itu baru berpengaruh, kalau ini (gas) masih biasa saja," katanya.
Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan kelangkaan elpiji 3 kg yang berdampak pada kenaikan harga tidak bisa dihindari. Penyebabnya sebagian orang yang melakukan migrasi dari elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg. Karena pada Januari 2015 lalu, harga elpiji 12 kg dinaikkan, sedangkan elpiji 3 Kg masih sangat murah karena masih disubsidi.
"Kalau harganya memang berbeda, itukan ya wajar-wajar saja. Selama peruntukan 3 kg itu bisa dibeli oleh semuanya. Kalau ada perbedaan harga itukan menjadi wajar saja bagi orang untuk beralih dari 12 kg ke 3 kg. Jadi, ya itu adalah konsekuensi dari kebijakan yang ditetapkan," papar Dwi.
Mulai besok, Pertamina akan menambah pasolan elpiji 3 kg di daerah yang mengalami kekurangan pasokan. "Ya menambah pasokan. Kita akan naik besok," kata Dwi.
(zul/hen)










































