Elpiji 3 kg yang merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang utama. Elpiji tabung hijau ini jadi incaran masyarakat karena Elpiji 12 kg sudah naik awal tahun.
Akhirnya banyak orang beralih dari Elpiji 12 kg ke Elpiji 3 kg. Hal ini yang membuat harga Elpiji 3 kg naik dan langka di pasaran.
Untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya, kenaikan terjadi cukup beragam. Bila masyarakat membelinya di warung, maka harganya bahkan mencapai Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per tabung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah seharusnya mengambil tindakan yang cepat dan tepat. Sebab secara bersamaan, harga beras juga ikut naik. Meski ada penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun dua komponen ini tetap menyulitkan.
Lalu bagaimana komentar para pejabat negara? Berikut adalah rangkuman detikFinance, Rabu (25/2/2015):
|
|
Pedagang Warteg
|
|
Wati, seorang pengusaha warteg kecil di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan mengatakan, dirinya meminta pemerintah pimpinan Joko Widodo (Jokowi) untuk peka, dan cepat menyelesaikan masalah tersebut.
"Saya menggunakan elpiji 12 kg, yang harganya naik menjadi Rp 140 ribu per tabung. Saya ingin beralih ke elpiji 3 kg, namun jarang ada barangnya. Jadi masih pakai yang 12 kg. Satu tabung 12 kg itu untuk 1 sampai 2 hari, karena kita masaknya banyak," tutur Wati kepada detikFinance.
Dia mengatakan, keberatan dengan kenaikan harga elpiji 12 kg dan beras yang terjadi saat ini. Semua kondisi ini membuat usahanya makin sulit. Wati tak berani menaikkan harga jual, dan lebih memilih memangkas keuntungannya.
"Sekarang pemerintah harus lebih peka. Soalnya ini beras ikut-ikutan naik, biasanya jarang naik banyak seperti sekarang. Biasanya yang naik cabai atau tempe saja, ini sekarang beras ikutan," ujar Wati.
"Pemerintah harusnya peka ada apa ini. Kalau harga naik semua, bangkrut dong kita," curhat Wati.
Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto
|
|
"Ya menambah pasokan. Kita akan naik besok," kata Dwi di kantor Wapres, Jakarta.
Dwi mengatakan, Pertamina selalu berusaha agar tidak ada wilayah yang kekurangan pasokan elpiji 3 kg. Pasokan elpiji di kota-kota besar akan menjadi perhatian utama pasokan elpiji 3 kg.
Menurut Dwi, tidak bisa dihindari, ada sebagian orang yang melakukan migrasi dari elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg. Karena pada Januari 2015 lalu, harga elpiji 12 kg dinaikkan.
"Kalau harganya memang berbeda, itukan ya wajar-wajar saja. Selama peruntukan 3 kg itu bisa dibeli oleh semuanya. Kalau ada perbedaan harga itukan menjadi wajar saja bagi orang untuk beralih dari 12 kg ke 3 kg. Jadi, ya itu adalah konsekuensi dari kebijakan yang ditetapkan," papar Dwi.
Menko Perekonomian Sofyan Djalil
|
|
"Siapa bilang? Kena banjir kali. Harga tetap sama, pemerintah nggak naikkan harga kok," tegas Sofyan di Kantor Presiden, Jakarta.
Sofyan tampak tidak percaya mendengar kabar tersebut. Pasalnya, Elpiji 3 kg adalah barang subsidi yang harganya ditentukan pemerintah. Sampai saat ini, pemerintah belum mengumumkan kenaikan harga Elpiji 3 kg.
"Saya sudah tanya ke Pak Dwi (Dwi Soetjipto, Direktur Utama Pertamina) tentang apa yang terjadi. Nggak ada masalah di pemerintah, Pertamina juga nggak ada masalah," sebutnya.
Sofyan mengira kenaikan harga Elpiji 3 kg hanya terjadi di beberapa tempat. Biasanya karena distribusi yang terganggu akibat banjir di beberapa tempat.
"Nggak ada masalah kok, supply cukup. Mungkin hanya setempat saja," sebut Sofyan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla
|
|
Mendengar kabar tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) langsung bereaksi. Ia akan menghubungi PT Pertamina (Persero) untuk mendapat penjelasan lebih lanjut.
"Sebentar saya akan ngomong dengan orang Pertamina," ungkapnya di kantor pusat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta.
Berdasarkan perkiraan JK, stok Elpiji seharusnya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Meskipun ada kemungkinan adanya lonjakan kebutuhan dari masyarakat.
"Terlalu banyak orang pakai barangkali ya. Tapi saya cek ke Pertamina, mustinya tidak," kata JK.
Halaman 2 dari 6











































