Kementerian Perhubungan memastikan rencana pembangunan Pelabuhan Cilayama, Karawang, Jawa Barat tetap dilanjutkan. Tapi, PT Pertamina (Persero) menolak, dan memastikan proyek tersebut akan membuat produksi minyak nasional anjlok signifikan.
"Kalau tetap dilanjutkan proyek Cilamaya, hal ini akan mengancam keberadaan dan operasional produksi minyak dan gas bumi milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ, di lepas pantai Laut Jawa," kata Manajer Media Pertamina, Adiatma Sardjito, kepada detikFinance, Senin (2/3/2015).
Adiatma mengatakan, dapat dipastikan bila pembangunan Pelabuhan Cilamaya tetap dilakukan, maka produksi migas PHE ONWJ akan berhenti. Angka produksi minyak di ONWJ mencapai 45.000 barel per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, dengan harga minyak saat ini sekitar US$ 50 per barel, bila dikalikan 45.000 barel per hari, maka negara berpotensi kehilangan pendapatan US$ 2,250 juta, atau sekitar Rp 27 miliar per hari.
"Negara bisa kehilangan pendapatan US$ 2,2 juta lebih per hari, angkanya sangat besar, tapi akan hilang sia-sia kalau Pelabuhan Cilamaya terbangun," tutup Adiatma.
(rrd/dnl)











































