Pelabuhan Cilamaya Dibangun, Minyak 45.000 Barel/Hari Jadi 'Korban'

Pelabuhan Cilamaya Dibangun, Minyak 45.000 Barel/Hari Jadi 'Korban'

- detikFinance
Senin, 02 Mar 2015 14:06 WIB
Pelabuhan Cilamaya Dibangun, Minyak 45.000 Barel/Hari Jadi Korban
Foto: ilustasi
Jakarta -

Kementerian Perhubungan memastikan rencana pembangunan Pelabuhan Cilayama, Karawang, Jawa Barat tetap dilanjutkan. Tapi, PT Pertamina (Persero) menolak, dan memastikan proyek tersebut akan membuat produksi minyak nasional anjlok signifikan.

"Kalau tetap dilanjutkan proyek Cilamaya, hal ini akan mengancam keberadaan dan operasional produksi minyak dan gas bumi milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ, di lepas pantai Laut Jawa," kata Manajer Media Pertamina, Adiatma Sardjito, kepada detikFinance, Senin (2/3/2015).

Adiatma mengatakan, dapat dipastikan bila pembangunan Pelabuhan Cilamaya tetap dilakukan, maka produksi migas PHE ONWJ akan berhenti. Angka produksi minyak di ONWJ mencapai 45.000 barel per hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Produksi 45.000 barel minyak per hari itu sangat besar. Pemerintah saja sekarang berusaha keras agar produksi minyak naik yang ditargetkan 825.000 barel per hari. Asal tahun saja, cari minyak 1.000 barel itu susahnya luar biasa, belum lagi modal yang besar dan risiko tinggi dalam eksplorasi minyak. Ini ada nyata 45.000 barel mau dibuang sia-sia," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, dengan harga minyak saat ini sekitar US$ 50 per barel, bila dikalikan 45.000 barel per hari, maka negara berpotensi kehilangan pendapatan US$ 2,250 juta, atau sekitar Rp 27 miliar per hari.

"Negara bisa kehilangan pendapatan US$ 2,2 juta lebih per hari, angkanya sangat besar, tapi akan hilang sia-sia kalau Pelabuhan Cilamaya terbangun," tutup Adiatma.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads