Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, total konsumsi elpiji 3 kg setahun rata-rata mencapai 5,2 juta ton. Namun, bila dikerucutkan volumenya, yang dikonsumsi rakyat miskin dan usaha kecil menengah (UKM), seperti tukang gorengan, bakso, dan lainnya, jumlahnya hanya sekitar 1,7 juta-1,9 juta metrik ton (MT).
"Katakanlah orang miskin di Indonesia itu mencapai 40 juta jiwa, atau artinya sekitar 12 juta jiwa dengan rata-rata 3-4 orang per kepala keluarga. Setiap rumah tangga kebutuhan elpijinya sebanyak 3 tabung per bulan dikalikan 12 juta kepala keluarga dikalikan 3 kg dan dikali 12 bulan, maka konsumsi totalnya 1.296 juta kg, atau sama dengan 1,3 juta MT," ungkap Bambang kepada detikFinance, Selasa (3/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi total konsumsi elpiji untuk masyarakat miskin dan pedagang kecil hanya sekitar 1,7 juta-1,9 juta MT," katanya.
Namun, kata Bambang, volume konsumsi elpiji 3 kg nasional mencapai 5,2 juta MT, sementara rakyat miskin dan usaha kecil hanya 1,9 juta MT.
"Bandingkan dengan konsumsi riil-nya mencapai 5,2 juta MT," ujar Bambang.
Bila berpatokan pada data Pertamina tersebut, bayangkan berapa besarnya konsumsi elpiji 3 kg yang tidak tepat sasaran. Ada sekitar 3,3 juta MT atau 3.300 juta kilogram yang tidak tepat sasaran.
Nilai subsidi per kg elpiji 3 kg sekitar Rp 5.000/kg, artinya ada kebocoran Rp 5.000 dikalikan 3.300 juta kg/tahun. Dari perkalian tersebut, anggaran subsidi elpiji yang tidak tepat sasaran mencapai Rp 16,5 triliun/tahun.
Seperti diketahui, tahun ini pemerintah menganggarkan dana Rp 28 triliun, dengan volume elpiji 3 kg sebanyak 5,7 juta MT.
(rrd/dnl)











































