"Gas rumah tangga itu adalah solusi, supaya gas itu tidak digotong-gotong, tetapi masuk ke dalam rumah tangga-rumah tangga," ujar Sudirman Said seperti dikutip di situs resmi Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2015).
Sudirman menegaskan, membangun jaringan gas rumah tangga memerlukan waktu, karena harus berkoordiansi dengan berbagai pihak termasuk dengan Pemerintah Daerah (Pemda) dan pemasok gas (perusahaan hulu minyak dan gas bumi). Namun, pemerintah akan terus berupaya keras agar terbentuk di masyarakat tren baru, yaitu menjadikan gas bumi sebagai bahan bakar untuk rumah tangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, dalam waktu dekat, pemerintah akan meresmikan pengoperasian jaringan gas rumah tangga, di Semarang, Jawa tengah. Kementerian yang dipimpinnya ini juga akan menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Perumahan Rakyat, agar perumahan-perumahan baru yang dibangun bisa sekalian dibangun infrastruktur gas rumah tangga, sehingga tidak perlu lagi membongkar bangunan atau jalan yang sudah jadi.
"Sampai saat ini, pembangunan jaringan gas untuk rumah tangga telah dilakukan Kementerian ESDM sejak 2009, dan hingga saat ini telah terpasang sekitar 73.000 satuan rumah yang tersebar di seluruh Indonesia, seperti Tarakan, Sidoarjo, Depok, Bekasi, Jabodetabek, dan lainnya," tutup Sudirman.
Kelebihan gas kota ini juga harganya lebih murah, ketimbang pakai elpiji. Selain itu, gas kota juga bisa menyelamatkan negara dari ketergantungan impor elpiji. Apalagi saat ini banyak alokasi elpiji 3 kg yang salah sasaran. Elpiji subsidi ini harusnya untuk orang miskin, namun karena dijual bebas, banyak orang bisa membelinya.
(rrd/dnl)











































