Pengalaman Pahit Soal Gas Kota, Daftar 3 Bulan Belum Dipasang

Pengalaman Pahit Soal Gas Kota, Daftar 3 Bulan Belum Dipasang

- detikFinance
Rabu, 04 Mar 2015 20:10 WIB
Pengalaman Pahit Soal Gas Kota, Daftar 3 Bulan Belum Dipasang
Jakarta - Jaringan gas kota yang memakai gas alam memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan utamanya yaitu lebih murah daripada elpiji, namun untuk bisa menikmati jaringan gas kota, kini tak semua rumah tangga bisa menikmatinya.

Bila konsumen elpiji hanya cukup membeli tabung dan memasangnya di rumah, berbeda dengan jaringan gas kota yang perlu proses pendaftaran. Saat proses pendaftaran ini lah ada konsumen yang harus kecewa.

Warga Jalan Mawar Merah VI, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur bernama Nurhayati mengungkapkan, hingga 3 bulan lamanya gas alam di rumahnya belum juga terpasang, padahal dirinya sudah membayar uang muka kepada operator gas kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Belum. Janjinya cepat, tapi sudah 3 bulan belum juga. Katanya sih kemarin bilang Februari mau dipasang," ujar Nurhayati saat ditemui detikFinance di lokasi, Rabu (4/3/2015).

Nurhayati mengaku, untuk pemasangan gas alam ini biayanya mencapai Rp 5,5 juta. Saat ini, prosesnya baru memasang instalasi pipa gas dari depan halaman rumah hingga dapur, galian belum dilakukan sehingga meteran dan gas belum bisa disalurkan melalui pipa.

"Galian belum. Instalansi sudah, katanya nunggu ada barengannya, jadi tinggal galian sama pemasangan ke kompor, ternyata lama. Saya biayanya mahal soalnya sekalian buat pasang air panas dan dingin, Rp 5,5 juta, sudah semuanya, tapi peralatan buat air panas dingin beli sendiri," katanya.

Ia mengaku, tak masalah harus mengeluarkan biaya tinggi asal proses bisa cepat dan penggunaannya praktis.

"Mahal sedikit nggak apa-apa ya, yang penting nggak usah lari-lari kalau lagi masak gasnya habis, saya yang penting praktis, efisien, mending pasang sekarang karena mungkin 5-10 tahun harganya akan melejit," katanya.

Keluhan lain disampaikan Junaedi (40), warga Jalan Mawar Merah III, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur ini mengaku berat jika harus membayar uang pemasangan awal hingga mencapai Rp 4 juta.

"Belum pasang. Keinginan ada. Tapi biaya pemasangannya mahal. Rp 4 jutaan mahal. Sekarang saya pakai gas 3 kg, sebulan paling 2-3 kali ganti," kata Junaedi.

Menurutnya, penggunaan gas alam memang menarik, memberi kemudahan namun harganya harus terjangkau agar bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. "Pemasangan awal jangan mahal-mahal. Mungkin Rp 1 juta masih bisa terjangkau," katanya.

Pengalaman lain disampaikan Heru (33), ia mengaku menyesal baru memasang gas alam di tahun 2008 saat pendaftarannya sudah mulai naik mencapai Rp 2 juta. Padahal, di tahun 1995-1996, biayanya hanya Rp 500.000.

"Banyak yang nyesel kenapa nggak dari dulu murah. 2008 masang Rp 2 juta, masih ada subsidi tapi berkurang. Dulu tahun 1995-1996 ada subsidi, bayarnya cuma Rp 500.000," katanya.

Selain itu, pembayaran tiap bulannya juga terus naik. Di tahun 1990-an per bulannya hanya Rp 28.000, sekarang mencapai Rp 45.000 per bulan.

Hal lain diungkapkan Nasrullah (75), warga Jalan Mawar lainnya menuturkan, penggunaan gas alam lebih banyak untungnya daripada ruginya. Dengan biaya pasang awal sebesar Rp 2,8 juta saat 7 tahun silam, tapi manfaatnya seumur hidup.

"Kan yang mahal pasang awalnya saja, tapi kan ini untuk seterusnya," katanya.

(drk/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads