Ini Bukti Sulitnya Mencari Minyak Bumi untuk Jadi BBM

Ini Bukti Sulitnya Mencari Minyak Bumi untuk Jadi BBM

- detikFinance
Kamis, 05 Mar 2015 14:49 WIB
Ini Bukti Sulitnya Mencari Minyak Bumi untuk Jadi BBM
Jakarta - Mencari satu liter minyak bumi tidak semudah membakar satu liter bahan bakar minyak (BBM), yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Perlu dana besar, melibatkan seribuan orang, dan peralatan berteknologi canggih untuk mencari satu liter minyak bumi. Tak percaya?

Berikut pengalaman PT Total E&P Indonesie yang baru saja selesai seismik untuk mencari potensi minyak bumi di Lapangan Tunu, Blok Mahakam, Kalimantan Timur.

"Kita baru selesai melakukan survei seismik 3 dimensi, di Lapangan Tunu. Ini bukan pekerjaan mudah. Banyak waktu, tenaga, dan uang untuk melakukan seismik ini, hanya untuk mencari potensi minyak atau gas bumi di bawah tanah," kata President & General Manager Total E&P Indonesie, Hardy Pramono, ditemui di kantornya, Gedung World Trade Center II, Sudirman, Jakarta, Kamis (5/3/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hardy mengatakan, kegiatan seismik di Lapangan Tunu ini juga tidak mudah. Lapangan ini memiliki reservoir yang unit dan lapangannya memiliki panjang 75 km serta lebar 20 km. Untuk menyelesaikan seismik ini, pihaknya membutuhkan waktu hingga 18 bulan lamanya, yang dilakukan sejak April 2012 lalu, sampai Oktober 2014.

"Seismik ini di Lapangan Tunu sangat susah, lokasinya di atas lumpur bahkan di sungai-sungai kecil," kata Hardy.

Ia mengungkapkan, dalam melakukan seismik ini, selain medannya sangat berat, juga harus melibatkan 1.500 orang pegawai, dari level atas sampai level bawah.

"Apalagi, Lapangan Tunu ini kategorinya lapangan raksasa, sebagian wilayahnya berpenduduk. Kalau sudah ada penduduk, ini salah satu kesulitan lagi dalam pencarian minyak," katanya.

Total E&P Indonesie, kata Hardy, harus aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat, kompensasi yang diberikan Rp 3 juta/hektar tambak ikan atau udang yang areanya digunakan untuk survei seismik 3 D.

"Tidak hanya tambak, ketika proses siesmik di laut atau sungai, pasti di bawahnya ada rumpon-rumpon milik nelayan, itu juga harus diberikan kompensasi juga. Tapi, susahnya ketika perhitungan kompensasi itu jumlah penduduknya dan nelayannya seketika meningkat pesat, yang dari daerah lain masuk. Ini kesulitan kita lainnya," ujarnya.

Lebih sulit lagi, kata Hardy, sebagian Lapangan Tunu sudah beroperasi, sehingga kegiatan seismik ini salah sedikit dapat mengganggu kegiatan produksi sehari-hari.

"Pasalnya, ketika kegiatan seismik dilakukan, semua kegiatan harus dihentikan, nelayan juga tidak boleh melintas. Ini terkait faktor keselamatan, karena kita melakukan peledakan (bom) di beberapa daerah yang dilakukan seismik," ungkapnya.

Hardy menambahkan lagi, total dana yang dikeluarkan untuk kegiatan seismik tersebut mencapai US$ 80 juta. Selain mengerahkan 1.500 pekerja, juga menggunakan 161 kapal, 35 ton solar per hari, membangun 510 jembatan kayu untuk akses masuk ke hutan, menghabiskan 20 ton bahan peledak, dan 70 km kabel.

"Semua itu dilakukan untuk mendapatkan data seismik yang kemudian diolah sebagai bahan penentuan titik pengeboran sumur. Pertanyaannya dapat migasnya? Belum tentu, bisa saja gagal. Itu sudah risiko kita, dan migasnya baru dirasakan hasilnya 4-5 tahun lagi," ungkapnya.

"Jadi kita seismik 18 bulan, nanti ngebor sana-sini, dapat minyaknya, hasilnya baru bisa dirasakan 2018 lebih," tutupnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads