Usai pertemuan di akhir pekan ini, Sofyan melaporkan komitmen perusahaan untuk tidak menaikkan tarif listrik sampai 3 bulan ke depan, khususnya untuk listrik industri.
"Tarif listrik belum ada rencana naikkan. Memang ada masalah kurs, BBM yang naik sedikit. Tapi menurut saya 3 bulan ke depan kita belum rencana naikkan tarif listrik," kata Sofyan di Kementerian BUMN, Jakarta, Sabtu (7/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bingung siapa nyampaikan itu. Justru kami mikir bagaimana tarif industri ini kita turunkan perlahan-lahan. Supaya animo para pengusaha dan investor bisa lakukan perluasan. Kan tujuannya untuk pekerjaan, pengangguran dikurangi," paparnya.
Pada kesempatan tersebut, sofyan melaporkan tekanan pelemahan rupiah terhadap kinerja keuangan PLN. PLN mengalami rugi kurs hingga Rp 1,3 triliun selama 4 sampai 5 bulan terakhir. Hal ini membuat BUMN listrik itu harus melakukan berbagai langkah efisiensi.
"Tekanannya 4-5 bulan sekitar Rp 1,3 triliun untuk itu kami bisa mencari dari efisiensi dengan mengganti diesel BBM dengan gas lalu PLTU yang belum maksimum kapasitasnya itu kita tingkatkan," ujarnya.
Pernyataan soal tidak menaikkan tarif listrik itu berbeda dengan yang sudah disampaikan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, pekan lalu.
"Sekarang tarifnya turun, tapi bulan depan bisa naik lagi. Kalau melihat harga minyak dunia sudah naik dan kurs dolar juga menguat terhadap rupiah," ujar Jarman pekan lalu.
Bahkan Jarman menegaskan pemerintah akan menaikan tarif listrik akhir untuk dua golongan rumah tangga pada akhir April 2015. Harusnya, dua golongan ini tarif listriknya naik pada 1 Januari 2015, namun ditunda.
Dua golongan rumah tangga yang dimaksud adalah R1/Tegangan Rendah dengan batas daya 1.300 volt-ampere (VA), dan R-1/Tegangan Rendah dengan batas daya 2.200 VA.
"Iya akhir April naik tarif listriknya," kata Jarman.
(feb/ang)











































