Menurut Indroyono, Pertamina mampu memanfaatkan fasilitas pabrik yang dahulu dipakai mengekspor gas cair (LNG), kemudian diubah oleh para insinyur Indonesia menjadi pabrik regasifikasi gas cair, dan dialirkan untuk pembangkit listrik.
"Indonesia tahun 70-an bangun 2 lapangan gas di Arun, Aceh dan Bontang, Kaltim. Kalau Bontang masih jalan. Khusus untuk Arun kalau gas habis, sarana sudah hebat dipakai apa? Putra-putri Indonesia Indonesia canggih. Jadi Pertamina dengan Rekayasa Industri merencanakan sarana Arun dibuat bukan ekspor, tapi memasukkan gas dari Tangguh di Papua," Indroyono pada diskusi maritim di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (11/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gas LNG kan dingin tuh, minus 100 derajat. Sampai di Arun di regasifikasi dan gas ditransfer ke Banda Aceh dan Belawan untuk pembangkit listrik. Dulu sarana ekspor sekarang dipakai untuk gasifikasi," jelasnya.
Pada area tersebut, pemerintah juga akan mengembangkan cold storage untuk pendinginan ikan. "Karena ada temperatur beda juga bisa untuk cold storage perikanan sehingga Lhokseumawe industri bisa bangkit lagi," jelasnya.
(feb/dnl)











































