Perusahaan yang sudah menginjak usia 57 tahun ini telah merencanakan berbagai agenda. Selain di sisi hulu aktif mengakuisisi blok minyak mulai dari Irak, Alzajair, sampai Malaysia, di sisi hilir Pertamina juga aktif berekspansi ke negara lain.
Kali ini, detikFinance merangkum rencana-rancana ekspansi Pertamina di sektor hilir, seperti diungkapkan Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, Senin (16/3/2015):
1. Buka SPBU di Kamboja dan Myanmar.
|
|
"Salah satu alasannya branding. Apalagi Pertamina memiliki target menjadi perusahaan minyak kelas dunia pada 2025," ujar Bambang.
Ia mengakui, jumlah SPBU yang akan dibangun tidak terlalu banyak. Karena untuk masuk ke suatu negara dan menjual produk bahan bakar bukan sesuatu yang mudah.
"Yang penting masuk dulu. Apalagi kita juga sudah akusisi pabrik pelumas di Thailand, ini jalan kita memperkuat branding Pertamina," ungkapnya.
2. Butuh Rp 39 Miliar Bangun Satu SPBU di Luar Negeri.
|
|
Bambang mengatakan, untuk membangun SPBU di negara-negara tersebut Pertamina menganggarkan sekitar US$ 3 juta atau Rp 39 miliar per SPBU. Saat ini, Pertamina sudah memiliki sekitar 5.600 SPBU yang tersebar di seluruh Indonesia, baik milik sendiri maupun bekerja sama dengan swasta.
3. Mimpi Pertamina, 'Kuasai' Selat Malaka.
|
|
Bambang mengatakan, tidak kurang 48 juta kilo liter (kl)/tahun atau setara dengan konsumsi BBM subsidi Indonesia di 2014 terjual di Selat Malaka. Sayangnya, Pertamina hanya menikmati 5% pasar BBM di Selat Malaka tersebut karena sebagian besar dikuasai perusahaan di Singapura.
"Kapal ekspor-impor ini tidak mau beli BBM ke Pertamina. Karena harga BBM yang dijual jauh lebih mahal," ujar Bambang.
Saat ini beberapa strategi akan dilakukan Pertamina untuk merebut setidaknya 10% pasar BBM di Selat Malaka, salah satunya dengan membangun storage atau fasilitas penyimpanan BBM di Pulau Sambu. Pulau ini ada di sekitar Batam yang lokasinya berhadapan langsung dengan Singapura.
"Kita bangun storage di Pulau Sambu dan juga Tanjung Uban. Kapasitas storage di Pulau Sambu mencapai 340.000 kl dan dapat ditingkatkan menjadi 800.000 kl," jelas Bambang.
4. Kapal Tak Mau Beli BBM di Indonesia Karena Harganya Mahal.
|
|
"Harga BBM di Singapura lebih murah. Pertama karena kilang minyaknya modern. Kedua, BBM-nya tidak kena pajak seperti di Indonesia. Ada PPN 10%, PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor) 5%, iuran BPH Migas. Ini yang membuat harga BBM makin mahal," terang Bambang.
5. Tugaskan Petral Untuk Jual BBM di Selat Malaka.
|
|
Untuk itu Pertamina meminta anak usahanya yang berdomisili di Singapura, PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral), untuk menjual BBM di Selat Malaka.
Bambang mengatakan, sejak reformasi di Petral dilakukan, Pertamina memberdayakan anak usahanya ini tidak hanya sebagai perusahaan trading minyak dan gas bumi (migas), tapi juga menjadi pemasaran di luar negeri.
"Dengan BBM dijual oleh Petral yang berdomisili di Singapura, maka ada insentif pajak dan investasi yang diberikan Pemerintah Singapura. Apalagi di negara tersebut tidak dikenakan PPN, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), apalagi iuran BPH Migas. Sehingga harganya jauh lebih murah dan bisa bersaing di Selat Malaka," jelasnya.
Selain itu, Pertamina juga mempersiapkan bunker atau tangki penyimpanan BBM di Pulau Sambu yang berdekatan dengan Batam, dan berseberangan dengan Singapura.
Halaman 2 dari 6










































