Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto, mengatakan kebutuhan belanja perusahaan per bulan adalah sekitar Rp 600 miliar. Perseroan akan melakukan hedging atau lindung nilai sebesar 20% dari total belanja bulanan.
Lindung nilai adalah kontrak yang mematok kurs rupiah terhadap mata uang negara lain dalam besaran dan waktu tertentu. Dengan begitu, perusahaan terhindar dari risiko fluktuasi nilai tukar. Ini mirip dengan biaya premi asuransi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belanja yang cukup besar ini diperlukan untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM), batu bara dan gas. Sesuai dengan arahan Menteri BUMN Rini Soemarno bahwa langkah yang paling tepat untuk mitigasi risiko adalah hedging.
"Karena memang ada keperluan untuk pembelian BBM, batu bara. Kan kita juga ada pembelian-pembelian seperti gas. Kita akan mitigasinya dengan hedging," terangnya.
Risiko lainnya adalah terhadap utang perusahaan. Sarwono menuturkan bahwa posisi utang yang menggunakan dolar AS adalah 7% dari total.
"Kalau kita, utang itu 7% itu dolar, karena kan kita impor barang," ujarnya.
(mkl/ang)











































