Harga Minyak Anjlok, Negara Ini Merana

Harga Minyak Anjlok, Negara Ini Merana

- detikFinance
Jumat, 20 Mar 2015 08:35 WIB
Harga Minyak Anjlok, Negara Ini Merana
Foto: Reuters
Jakarta - Anjloknya harga minyak dunia yang mencapai hingga 50% membuat Nigeria merana. Negara ini merupakan produsen minyak terbesar di Afrika.

Mata uang Nigeria jatuh ke tingkat terendahnya terhadap dolar AS, sementara bursa sahamnya turun 15% di tahun ini. Cadangan devisa juga makin tergerus.

"Tahun ini akan menjadi sangat sulit. Kami mengalami turunnya harga minyak lebih dari 50% dan kondisi tersebut membuat perekonomian terpengaruh, ujar Menteri Keuangan Nigeria, Ngozi Okonjo-Iweala seperti dilansir dari CNN, Jumat (20/3/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini produksi minyak Nigeria mencapai 1,8 juta barel per hari. Negara ini merupakan produsen minyak terbesar nomor 7 di OPEC.

Pendapatan negara ini, 70% disumbang dari minyak. Nigeria membutuhkan harga minyak naik menjadi US$ 120/barel untuk bisa menyeimbangkan anggarannya.

Harga minyak dunia yang saat ini mencapai di bawah US$ 43/barel, atau terendah dalam 6 tahun, membuat ekonomi Nigeria makin merana. Krisis tersebut memengaruhi masyarakat kaya dan miskin.

Orang terkaya Afrika asal Nigeria, Aliko Dangote, kehilangan kekayaannya US$ 25 miliar karena krisis yang terjadi.

Selain Nigeria, Rusia juga jadi negara yang ekonominya merana karena turunnya harga minyak dunia. Pertumbuhan ekonomi Rusia bisa turun 5% tahun ini. Venezuela juga bakal turun PDB-nya hingga 7%.

Lembaga moneter internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Nigeria dari 7,3% menjadi 4,8% di tahun ini.

"Nigeria sebenarnya masih menjadi 20 negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Namun kami memangkas sejumlah investasi untuk mendukung pertumbuhan. Kami fokus kepada proyek prioritas, khususnya infrastruktur dan kesehatan," kata Okonjo-Iweala.

Belum sampai di situ, Nigeria juga menghadapi persoalan politik, yaitu penundaan pemilu yang pertama kali dalam sejarah. Ketidakpastian dan ancaman ketidakstabilan politik membuat investor dan pengusaha menunggu untuk berinvestasi.

Pemilu telah ditunda 6 bulan, setelah pihak militer tidak bisa menjamin keamanan bila pemilu dilakukan.

(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads