"Saat ini masih sedikit investor yang minat, karena marginnya rendah bahkan pas-pasan. Makanya sampai saat ini baru sekitar 160.000 rumah tangga di Indonesia yang menikmati gas bumi untuk memasak. Padahal kita punya banyak produksi gas bumi. Hanya masalahnya mau pakai gas bumi perlu pipa-pipa gas yang harganya cukup mahal, dan uang negara terbatas, makanya kita dorong swasta ikut mengembangkan gas bumi untuk rumah tangga," kata Wakil Ketua Komite BPH Migas, Fanshurullah Asa kepada detikFinance, Jumat (20/3/2015).
Dia mengatakan, meski tarifnya naik, namun gas bumi ini masih lebih murah dan efisien ketimbang elpiji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fanshurullah, biaya yang dikeluarkan masyarakat tidak akan melonjak. Bila dihitung, konsumsi gas bumi setiap bulan dengan tarif baru, biaya yang dikeluarkan sama dengan menggunakan elpiji. Setiap rumah tangga kecil rata-rata menghabiskan 3 tabung elpiji 3 kg per bulan, sementara rumah tangga besar menghabiskan 1 tabung elpiji ukuran 12 kg per bulan.
"Jadi kalau harga elpiji 3 kg di warung Rp 20.000/tabung dikali 3 tabung per bulan jadi Rp 60.000/bulan. Kalau gas bumi itu sekitar Rp 67.500/bulan, tapi itu sudah masak sampai sepuas-puasnya, termasuk rumah tangga besar golongan RT 2, itu sebulan hanya bayar sekitar Rp 105.000, sekarang 1 tabung elpiji 12 kg saja sekitar Rp 140.000, jadi walau tarifnya naik, tapi masih lebih murah," jelasnya.
(rrd/dnl)











































