"Mayoritas sekolah yang belum dapat listrik itu daerah remote area, di pelosok. Tapi ada juga sekolah di sekitar DKI Jakarta tidak ada listriknya," ujar Sudirman usai pertemuan dengan Anies di Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (20/3/2015).
Tapi, kata Sudirman, sebagian besar sekolah yang belum mendapatkan listrik lokasinya di daerah terpencil, sehingga akses infrastruktur listrik masih terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anies Baswedan menambahkan, 17.520 sekolah itu adalah dari 200.000 sekolah yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di seluruh Indonesia.
"Kami punya datanya lengkap, lokasinya di mana, kepala sekolahnya siapa, selama ini listriknya pakai apa, apakah dari genset (mesin diesel), dari solar (matahari) dan lainnya, semuanya lengkap," ucap Anies.
Dari data tersebut, di Papua ada 55% sekolah yang belum mendapat listrik, Papua Barat 66%, Nusa Tenggara Timur (NTT) 70%, dan Kalimantan Barat 71%.
Untuk Jawa Tengah, 97% sekolah sudah mendapat listrik. Bangka-Belitung 96% sekolah sudah mendapat listrik, Yogyakarta 96% sekolah sudah mendapat listrik, Jawa Barat 95% sekolah sudah mendapat listrik, dan Jawa Timur 95% sekolah sudah mendapat listrik.
"Justru di Jakarta hanya 92%. Jadi ada 8% sekolah di DKI Jakarta yang belum dapat listrik," ungkapnya.
"Kalau masyarakat menemukan ada sekolah yang bernasib sama, silakan laporkan ke laman sahabat.kemdikbud.go.id," tambahnya.
Sudirman menambahkan, data-data dari Kementerian Pendidikan ini akan diverifikasi lagi oleh tim yang telah dibentuk.
"Seperti di Pasar Rebo Jakarta, ada sekolah yang terdata tidak dapat listrik, padahal di sana sudah ada jaringan listrik, kita harus verifikasi dulu kenapa tidak tersambung listrik sekolahnya, apa karena tidak bayar listrik berbulan-bulan sehingga diputus aliran listriknya, atau sebab yang lain," tutup Sudirman.
(rrd/dnl)











































