Gaji Bos Petral Rp 572 Juta/Bulan yang Bikin Geleng-geleng

Gaji Bos Petral Rp 572 Juta/Bulan yang Bikin Geleng-geleng

- detikFinance
Senin, 23 Mar 2015 09:37 WIB
Gaji Bos Petral Rp 572 Juta/Bulan yang Bikin Geleng-geleng
Jakarta - Hasil blusukan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri bersama Menteri ESDM Sudirman Said dan petinggi PT Pertamina (Persero) ke kantor Pertamina Energy Trading Limited (Petral) menemukan hal yang membuat geleng-geleng.

Kunjungan ke kantor Petral yang berada di Singapura dilakukan Faisal bersama Sudirman untuk melihat kondisi Petral pasca perombakan tugas dan manajemennya.

Seperti diketahui, Petral tak lagi menjadi pintu pengadaan impor BBM dan minyak untuk kebutuhan dalam negeri. Tugas Petral itu digantikan oleh ISC (Integrated Supply Chain).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami pada 8 Maret lalu datangi kantor Petral. Saya, Pak Menteri ESDM Sudirman Said, Direktur SDM Pertamina (Dwi Wahyu Daryoto), dan Dirut ISC (Integrated Supply Chain) Daniel Purba," ungkap Faisal kepada detikFinance, akhir pekan lalu.

Faisal mengatakan, blusukan ke Singapura tersebut untuk mengecek kondisi Petral pasca perombakan. Sekaligus mencari data dan infromasi terkait impor minyak.

"Data dan fakta yang didapat membuat Pak Menteri sampai geleng-geleng," ujarnya.

Berikut data soal gaji petinggi Petral yang mengejutkan Faisal dan tanggapan Pertamina seperti dirangkum detikFinance, Senin (23/3/2015):

1. Gaji Dirut Petral Rp 572 Juta/Bulan

Faisal Basri mengatakan, gaji Direktur Utama Petral mencapai US$ 44 ribu per bulannya. Bila dirupiahkan, mencapai Rp 572 juta per bulan. Ini menurut Faisal, lebih tinggi dari gaji Direktur Utama Pertamina yang menjadi induk usahanya.

"Pak Dwi (Direktur SDM Pertamina) kan tahu semua gaji pegawai Pertamina, tapi dia tidak tahu gajinya Dirut Petral. Pas diperlihatkan kaget, gajinya Dirut Petral itu US$ 44.000 (Rp 572 juta) per bulan take home pay, kalau pokoknya US$ 41.000 (Rp 533 juta). Kalah jauh gajinya Dirut Pertamina yang hanya sekitar Rp 200 juta per bulan take home pay," jelas Faisal.

2. Uang Pisah Dirut Petral US$ 1 Juta

Pada awal tahun ini, Manajemen PT Pertamina (Persero) mengganti Direktur Utama anak usaha yaitu PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Dirut Petral baru adalah Totok Nugroho, menggantikan Bambang Irianto.

Saat berkunjung ke kantor Petral di Singapura, Faisal Basri mengatakan, dirinya dan Menteri ESDM Sudirman Said geleng-geleng. Biaya yang harus dikeluarkan sebagai kompensasi mencopot Direktur Utama Petral mencapai Rp 13 miliar lebih.

"Tahu nggak yang buat kita lebih kaget lagi? Uang pisah Dirut Petral yang kemarin itu lebih dari US$ 1 juta (sekitar Rp 13 miliar)," kata Faisal.

3. Kata Pertamina Soal Gaji Dirut Petral

Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda A. Pusponegoro mengatakan, standar gaji pekerja di Singapura tidak bisa disamakan dengan di Indonesia. Pasalnya, negara tersebut merupakan salah satu negara maju dengan tingkat biaya hidup yang tinggi.

"Standar gaji di Singapura secara general (umum) bila dibandingkan dengan di Indonesia memang jauh lebih tinggi," ujar Wianda kepada detikFinance.

Seperti diketahui, Singapura diberi gelar sebagai kota dan negara dengan biaya hidup termahal di dunia dalam 2 tahun berturut-turut.

Wianda mengatakan, saat ini jajaran pimpinan Pertamina berencana mengkaji ulang semua standar gaji direksi-direksi anak perusahaan agar sesuai dengan standar kepatuhan.

"Board of Director (BOD) Pertamina pun secara berkala dapat melakukan review atas tunjangan dan gaji BOD anak perusahaan Pertamina, untuk memacu kinerja perusahaan tapi tetap mengacu pada standar kepatuhan," ujarnya.

Terkait Petral sendiri, Pertamina sejak Januari 2015 sudah melakukan restrukturisasi di perusahan yang berdomisili di Singapura. Wianda menambahkan, saat ini Petral telah menjadi third party trading yang dapat berkompetisi dengan para pemain atau perusahaan minyak berkelas dunia di perdagangan minyak internasional.

"Petral juga telah ikut tender pengadaan minyak mentah dan produk BBM lainnya di Pertamina, berkompetisi dengan major oil companies, agar Pertamina mendapatkan harga paling kompetitif," tutup Wianda.
Halaman 2 dari 4
(rrd/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads