Impor BBM dan minyak mentah PT Pertamina (Persero) tidak lagi menggunakan jasa anak usaha Petral Energy Service di Singapura dan dialihkan ke unit Integrated Supply Chain (ISC). Pertamina hemat US$ 20 juta atau sekitar Rp 260 miliar dalam 2 bulan.
Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, saat ini yang minyak dan BBM benar-benar diimpor lewat perusahaan minyak milik negara (national oil company/NOC).
"Jadi yang menang (tender pengadaan minyak/BBM) dari National Oil Company (NOC) sudah dibatasi yang betul-betul NOC, the true NOC. Saya tadi tegaskan ke direksi pertamina, betul nggak tuh NOC? Betul kata mereka," ujar Sudirman di kantornya, Jakarta, Selasa (31/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan itu Sudirman mengatakan, dirinya juga tengah mendorong Pertamina melakukan sejumlah efisiensi di bisnisnya. Tadi pagi, Sudirman bertemu dengan Menteri BUMN Rini Soemarno dan direksi Pertamina untuk membahas soal efisiensi tersebut.
"Tadi Pertamina mempresentasikan, sebenarnya banyak sekali sudah inisiatif yang sudah membuahkan hasil, pengadaan barang/hasa diperbaiki. Sekarang kalau Anda lihat, pemenang tender minyak itu, nanti boleh tanya ke Pertamina, sudah lebih beragam, sudah lebih ramai daripada zaman dulu bolak balik pemenangnya itu-itu saja," tutup Sudirman.
Di tempat yang sama, Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro mengatakan, pihaknya juga telah memusatkan pengadaan barang dan jasa dalam satu direktorat. Lewat sistem tersebut, Pertamina menghemat Rp 26 juta selama Januari-Maret 2015.
"Kami banyak melakukan efisiensi dan inisiatif, salah satunya mensentralisasi pengadaan barang dan jasa seluruhnya ada di Direktorat SDM," ujarnya Wianda.
Wianda mengatakan, sebelumnya selama ini, antara direktorat termasuk anak perusahaan di Pertamina, masing-masing memiliki unit khusus yang melakukan pengadaan barang dan jasa. Sejak awal tahun, Direksi Pertamina mengubah skema pengadaan barang dan jasa terpusat di Direktorat SDM.
"Dengan skema ini, Pertamina dapat menghemat dari Januari-Maret sebesar US$ 26 juta, sangat besar penghematannya mencapai sekitar Rp 300 miliar. Misalnya kita mau pengadaan satu unit barang, kalau spesifikasinya sama, nggak perlu lagi dilakukan sendiri-sendiri. Nanti saya SMS contoh barangnya seperti apa saja, itu banyak sekali," ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan efisiensi dengan menjaga stok solar nasional cukup 17 hari saja, tidak perlu terlalu banyak sampai 20 hari lebih.
"Ini mampu memberikan penghematan, tidak perlu mengadakan inventory solar terlalu berlebihan, yang pasti walau hanya 17 hari stok solar nasionalnya, tapi aman. Kalau yang ini kita masih hitung lagi berapa penghematannya Januari-Maret, tapi pastinya cukup signifikan juga," tutup Wianda.
(dnl/ang)










































