Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium menjadi Rp 7.300/liter, dan solar Rp 6.900/liter dinilai Faisal tidak wajar.
Alasannya, harga BBM yang jenisnya lebih bagus dari premium (RON 88), dijual dengan harga yang lebih murah di negara tetangga kita seperti Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Bensin RON 95 di Malaysia Jauh Lebih Murah
|
|
"Hari ini harga bensin RON 97 di Malaysia cuma Rp 7.971/liter, itu sudah termasuk pajak GST (Goods and Services Tax) 6%," ungkap Faisal Basri.
Soal harga bensin RON 95 di Malaysia Rp 6.908/liter, Faisal mengatakan itu berdasarkan kurs Bank Indonesia (BI) pada 31 Maret 2015.
"Saya hitungnya pakai kurs jual, bukan kurs beli. Itu sudah saya murah-murahin, masih saja tetap lebih murah dibandingkan bensin kita di Indonesia, terutama premium. Jadi hari ini, bensin premium RON 88 di Indonesia lebih mahal daripada bensin RON 95 di Malaysia," katanya.
2. Bensin Premium Jadi Biang Kerok Mahalnya BBM di RI
|
|
"Harga BBM di Indonesia itu lebih mahal daripada Malaysia, biang keroknya adalah bensin RON 88. Keberadaan RON 88 membuat harga di SPBU, premiumnya lebih dekat ke harga Pertamax," kata Faisal.
Ia mengatakan, hal ini terjadi karena sudah tak ada lagi bensin premium yang dijual pasar internasional, sehingga penetapan harganya menggunakan formula harga BBM yang dibuat oleh pemerintah.
"Kalau premium dihapus, kan nggak ada formula aneh yang menentukan harga premium, sekarang kalau orang cari harga premium nggak ada yang tahu harga premium karena memang nggak dijual di internasional. Kalau premium dihapus mengikuti MOPS 92 (Pertamax), tapi kualitas lebih baik dan lebih bersih bagi lingkungan," katanya.
Faisal mengungkapkan formula penetapan harga BBM atau bensin premium selalu berubah-ubah. Sebelum Januari 2015 untuk menghitung alpha BBM formulanya 3,32% x MOPS 92 + Rp 448, sehingga alphanya jadi Rp 728.
Kemudian setelah 1 Januari, formulanya berubah lagi, yaitu 3,92% dikali Harga Indeks Pasar (HIP) + Rp 672, jadi alphanya Rp 891/liter. Kemudian pada 19 Januari 2015, formulanya berubah menjadi 3,92% x HIP + Rp 1.022/liter, jadi alphanya Rp 1.195/liter.
"Itu yang membuat harga premiun jadi lebih mahal mendekati Pertamax, harusnya nggak perlu ada formula seperti ini. Harusnya pakai MOPS 92," katanya.
Pihaknya sejak awal meminta, agar premium dihapuskan, tetapi pemerintah memberi batas waktu hingga 2 tahun ke depan. "Itu risikonya orang mengklaim punya hitungan harga BBM masing-masing, sehingga membuat masyarakat bingung," kata Faisal.
Kebingungan publik makin menjadi, karena penentuan harga MOPS yang dipakai pemerintah untuk menentukan harga BBM premium memakai rata-rata 1-2 bulan sebelumnya. Di sisi lain, banyak publik menghitung dengan harga MOPS saat ini.
"Apalagi untuk mengetahui MOPS sebenarnya tak mudah, karena harus langganan dengan tarif yang sangat mahal," katanya.
3. Pertamina, Tidak Efisiennya di Mana?
|
|
Faisal berharap, agar Pertamina memberikan data yang sejujur-jujurnya kepada rakyat Indonesia. bila ada persoalan yang membuat harga BBM jadi mahal, tunjukan, dan mari bersama-sama mencari jalan keluar.
"Yang tidak efisiennya di mana? Kami berharap jujurlah, kita cari mana yang komponen membuat harga BBM tidak efisien, kita bantu selesaikan bersama. Beri data yang benar agar rakyat mengerti," kata Faisal.
4. Dirut Petral Dapat Apartemen Mewah dan Pesangon Rp 11 M
|
|
Pertamina melakukan perombakan di tubuh petinggi Petral. Salah satunya mengganti Dirut Petral dari Bambang Irianto ke Totok Nugroho pada 20 Januari 2015 lalu.
"Kami serombongan beberapa waktu lalu datang ke Singapura untuk bertemu direksi Petral. Menteri ESDM (Sudirman Said), Direktur SDM Pertamina (Dwi Wahyu Daryoto), dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas. Dalam pertemuan itu, kita dapat informasi salah satunya gaji dan pesangon," kata Faisal.
Faisal menyebutkan, gaji pokok Direktur Utama Petral (dikenal dengan istilah Presiden Petral) adalah SG$ 41.533/bulan. Bila dirupiahkan, akan menjadi sekitar Rp 394,5 juta/bulan. Ditambah dengan berbagai tunjangan, Faisal mengatakan gaji Presiden Petral menjadi Rp 44.000/bulan (Rp 418 juta/bulan).
"Kami juga mendapatkan data pemberian pesangon yang diberikan kepada Presiden Petral karena dia diganti. Nilainya sebesar SG$ 1.195.508,15 (Rp 11,4 miliar)," kata Faisal.
Tidak hanya itu, lanjut Faisal, petinggi Petral pun dapat fasilitas kelas wahid. "Direktur Petral dapat fasilitas apartemen di Four Seasons Singapura. Itu kelasnya tinggi sekali," ungkapnya.
Faisal pun membandingkan dengan perusahaan induknya, yaitu Pertamina. "Dirut saja (gaji) Rp 200 juta/bulan," ujarnya.
Dibandingkan dengan perusahaan minyak swasta dalam negeri, demikian Faisal, standar Petral juga masih tinggi. Faisal mencontohkan informasi yang diperolehnya dari Lukman Mahfoedz, Direktur Utama PT Medco Energi International Tbk (MEDC).
"Saya tanya ke Pak Lukman, kalau pesangon perusahaan minyak berapa? Pak Lukman bilang paling 1,5 kali dari gaji pokok. Kalau direktur Petral bisa 5 kali," tegas Faisal.
Oleh karena itu, Faisal menyebutkan temuan-temuan tersebut berbeda dengan keterangan dari Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina.
"Jadi ini bertentangan dengan penjelasan dari Pertamina. Ibu Wianda yang bilang gaji Petral belum termasuk biaya apartemen," kata Faisal.
Halaman 2 dari 5











































