Pelabuhan Cilamaya Batal Dibangun, Pertamina Cs Tak Jadi Kehilangan Rp 333 T

Pelabuhan Cilamaya Batal Dibangun, Pertamina Cs Tak Jadi Kehilangan Rp 333 T

- detikFinance
Kamis, 02 Apr 2015 14:25 WIB
Pelabuhan Cilamaya Batal Dibangun, Pertamina Cs Tak Jadi Kehilangan Rp 333 T
Karawang - Pemerintah telah memutuskan untuk membatalkan rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Selanjutnya lokasi pelabuhan baru akan dipilih antara Subang atau Indramayu.

Batalnya rencana pelabuhan ini membuat PT Pertamina dan pelanggannya tidak jadi kehilangan pendapatan Rp 333 triliun lebih.

Dalam rapat terkait proyek Pelabuhan Cilamaya, dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menko Maritim Indroyono Soesilo, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan, Menteri PPN/Bappenas Andrinof Chaniago, Dirut PT Pertamina Dwi Soetjipto, Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar, serta Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto memaparkan, bila Pelabuhan Cilamaya dibangun maka yang terjadi bagi pengeoperasian Blok Minyak dan Gas Bumi yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ adalah:



  • Pertamina harus menutup pipa-pipa di 7 jalur yang berada di bawah laut, terdiri dari pipa 16 inchi MMF-Junction, 24 inchi LCOM-NGLB, 12 inchi NGLB-LCOM, 16 inchi LPRO Junction, 12 inchi KKNA-KLB-A, 12 inchi KKNA-KLB-B, 24 inchi LPRO-Cilamaya.
  • Harus memotong dan membersihkan 5 stasiun pengumpul di LCOM, LSER, LFLOW, KLB, KLA.
  • Harus memotong dan membersihkan 28 anjungan minyak.

Dwi mengungkapkan, dampak dari tiga hal di atas, akan menyebabkan kehilangan produksi 34.000 barel setara minyak per hari, dan cadangan minyak yang tidak terambil 62,1 juta barel setara minyak.

Selain itu, sumur-sumur temuan migas yang tidak bisa dikembangkan mencapai lebih dari 10 sumur dengan total cadangan 317 juta barel setara minyak.

Akibatnya, pelabuhan Cilamaya berimplikasi pada:



  • Biaya penggantian pipa penyalur US$ 572 juta
  • Biaya pemendaman pipa masa kerja 70 hari US$ 403 juta
  • Abandonment dan pembongkaran aset US$ 663 juta
  • Biaya perubahan moda operasi PHE ONWJ (pemisahan operasi East & West dan penambahan terminal di west area Rp 1,040 triliun
  • Biaya sewa kapal FSO untuk terminal baru di west area selama 20 tahun

Total biaya yang akan dikeluarkan Rp 7,423 triliun

Selain itu juga berdampak pada kehilangan pendapatan:



  • Pemendaman Pipa Rp 4,550 triliun
  • Abandonment dan pembongkaran aset Rp 64,13 triliun
  • Penghentian sementara produksi pipa yang melintasi alur (selama dredging sekitar 4 tahun Rp 78 triliun)
  • Kehilangan potensi cadangan (unrecovered reserves DA, LU, SW, KW, KKX, SEZ, KKB, KX, KKtA, KKTB, ttB, YYC, yyD, JJB Rp 184,5 triliun
  • Kerugian PLN (per 6 bulan) Rp 1,329 triliun
  • Kerugian Pupuk Kujang (per 6 bulan) Rp 1,45 triliun

Total Rp 333,960 triliun

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads