Ini menyebabkan harga jual BBM terus bergerak. Terakhir, pemerintah menaikkan harga Premium sebesar Rp 500/liter pada akhir Maret 2015.
Arifin Panigoro, pendiri kelompok usaha Medco Group, menilai kebijakan harga BBM yang diterapkan pemerintah sudah tepat. Langkah ini bisa mengurangi pembengkakan subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BBM oke, sudah mengikuti harga pasar. Cuma belum biasa harga naik-turun. Kita hanya belum terbiasa," kata Arifin kala ditemui di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (6/4/2015).
Oleh karena itu, Arifin kurang sepakat bila harga BBM ditetapkan dalam waktu tertentu, misalnya 6 bulan sekali. Pasalnya, APBN berisiko jebol.
"Nanti ada konsekuensinya (kalau 6 bulan). Kalau harga minyak dunia 'loncat' dan (harga BBM) belum dinaikkan, jebol lagi anggarannya," tegas Arifin.
Oleh karena itu, Arifin lebih sepakat harga BBM ditetapkan seperti sekarang. Lagipula, ke depan ada peluang harga minyak dunia turun lagi sehingga harga BBM pun akan mengikuti.
"Mumpung harga minyak murah, kalau harga (minyak) turun lagi ya BBM turun. Memang fluktuasinya lagi begini, karena persaingan Arab Saudi dengan Amerika dan Rusia," terangnya.
Meski menguntungkan bagi masyarakat, demikian Arifin, tetapi penurunan harga minyak merugikan para pengusaha seperti dirinya. PT Medco Energi International Tbk (MEDC) mencatat laba bersih US$ 10,1 juta (Rp 131,3 miliar) sepanjang 2014, turun 19,8% dibandingkan dengan 2013 yang sebesar US$ 12,6 juta (Rp 163,8 miliar).
"Kita diuntungkan kok karga (minyak) turun terus, buat orang Indonesia. Tapi buat saya nggak untung, saya produsen," tuturnya.
(hds/dnl)











































