Kurangi Pemborosan, Pertamina Pangkas Produksi Dua Kilang Ini

Kurangi Pemborosan, Pertamina Pangkas Produksi Dua Kilang Ini

- detikFinance
Senin, 06 Apr 2015 15:51 WIB
Kurangi Pemborosan, Pertamina Pangkas Produksi Dua Kilang Ini
Jakarta - PT Pertamina (Persero) memangkas produksi dua kilang minyaknya, yakni kilang Plaju di Sumatera Selatan dan kilang Kasim di Papua. Alasannya, agar lebih efisien dan memfokuskan kilang tersebut untuk mengolah produksi minyak dalam negeri.

"Kita harus bikin kilang kita bersaing dengan impor, jadi salah satunya ya kita lihat ongkos-ongkos di kilang-kilang kita. Biaya paling besar ada di bahan baku (minyak mentah). Untuk itu kita mengambil langkah memangkas produksi di dua kilang kita yakni Kilang Plaju dan Kilang Kasim," kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, ditemui di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2015).

Dwi mengatakan, selama ini, kilang Plaju dan Kasim selain mengolah minyak mentah dalam negeri, juga mengolah minyak dari impor.Bila tetap mengolah minyak impor, biayanya cukup tinggi, terutama untuk ongkos angkut minyak mentah ke kilang terutama di Kasim yang ada di Papua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maka itu, kedua kilang ini kita optimalkan untuk mengolah minyak yang ada di sekitar Plaju dan Kasim saja. Misalnya selama ini kilang Plaju karena produksi minyak mentah di sekitarnya tidak banyak, harus suplai dari tempat lain termasuk dari impor, itu yang bikin kilang Plaju tidak efisien," katanya.

"Ini bukan menghentikan produksi, tapi mengoptimalkan supaya lebih efisien," tambahnya.

Dwi mengungkapkan, pemangkasan pengolahan kedua kilang ini, mencapai setengah dari kapasitas produksi. Untuk kapasitas kilang Plaju mencapai 118.000 barel per hari, dan kilang Kasim 10.000 barel per hari. Pemangkasan produksi kilang ini, tentunya akan berdampak pada impor BBM, tapi jumlahnya tidak terlalu besar, karena kedua kilang ini kapasitasnya tidak terlalu besar.

"Plaju kan nggak besar, jadi tambah impornya nggak terlalu besar. Kapasitas Plaju itu sekitar 118.000 kiloliter, berarti separuhnya (kapasitas Kilang Plaju) kita impor BBM. Kalau Kasim juga kecil kapasitasnya," tutup Dwi.

Ia menambahkan, agar kapasitas kilang milik Pertamina ini bertambah besar dan lebih efisien, yang ujungnya akan mengurangi jumlah impor, pihaknya menargetkan kilang Balikpapan dan Cilacap segera dibangun pengembangannya, lewat proyek Refining Development Masterplan Program (RDMP).

"Maka program-program untuk meningkatkan kapasitas kilang akan segera kita mulai, yang kita harapkan tahun ini bisa groundbreaking untuk kita mulai, dua kilang yakni Balikpapan dan Cilacap untuk RDMP," ungkapnya.

Berdasarkan data dokumen Tim Reformasi Tata Kelola Sektor Migas yang dikutip detikFinance, kilang minyak yang dimiliki Pertamina sebagian merupakan warisan pemerintahan kolonial Belanda.

Kilang-kilang pengolahan minyak mentah menjadi BBM milik Indonesia mengalami penuaan dan sudah tidak efisien. Kilang pengolahan paling muda usianya sudah 20 tahun lebih, yaitu Kilang Balongan, selebihnya adalah kilang tua bahkan ada di antaranya yang peninggalan pemerintah kolonial.

Dalam 4 hingga 5 tahun terakhir, rata-rata kerugian operasi kilang mencapai Rp 10 triliun per tahun. Keadaan ini sering memaksa Pertamina memilih mengimpor BBM daripada harus mengolah sendiri tetapi terus membukukan kerugian.

Namun berdasarkan laporan terakhir Direksi Pertamina kepada Menteri ESDM Sudirman Said, produksi kilang minyak Pertamina sudah lebih efisien, bahkan ada yang lebih murah di bawah MOPS (Mean of Platts Singapore) atau harga patokan minyak di Singapura.

(rrd/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads