"Kita Desember, Januari, Februari rugi. Tapi kita tetap optimistis bila selama satu tahun ini bisa untung," ujar Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, ditemui di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2015).
Dwi mengungkapkan, kerugian selama Desember 2014-Februari 2015 tersebut, salah satunya karena harga BBM yang ditetapkan pemerintah tidak sesuai dengan harga keekonomian, sehingga bisa dibilang Pertamina menjual rugi premium dan solar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar kerugian tidak semakin besar, Pertamina harus melakukan berbagai penghematan, mulai dari efisiensi pengadaan impor minyak mentah dan BBM, menurunkan pemborosan pengiriman BBM, dan menurunkan biaya operasi kilang minyak.
"Kita harus melakukan penghematan, kalau tidak kerugiannya makin besar. Seperti dari impor crude (minyak mentah) dapat efisiensi sebagian, tapi belum seluruhnya, losses (pemborosan) kita turunkan, biaya operasi kilang dan lainnya," katanya.
Selain harga BBM yang di bawah harga keekonomian, kerugian Pertamina juga berasal dari anjloknya harga minyak dunia yang sempat di bawah US$ 50 per barel sejak awal tahun. Hal ini membuat Pertamina menderita kerugian US$ 35 juta (Rp 240 miliar) di Januari 2015.
Salah satu hasil penghematan yang dilakukan Pertamina dan sudah menuai hasil, yakni penghematan yang dilakukan Integrated Supply Chain (ISC). Unit di Pertamina tersebut selama dua bulan, yakni Januari-Februari 2015, unit ini mampu menghemat dalam impor minyak US$ 20 juta atau sekitar Rp 260 miliar.
(rrd/dnl)











































