ADVERTISEMENT

Tri Mumpuni, 'Wanita Listrik' yang Menerangi Desa di Sumba

- detikFinance
Rabu, 08 Apr 2015 08:17 WIB
Foto: Tri Mumpuni (Rista-detikFinance)
Sumba Timur - Keberadaan listrik bagi warga di pelosok negeri, seperti di Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat penting, puluhan tahun mereka hidup tanpa listrik, bahkan untuk mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari membutuhkan waktu 7 jam.

Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) Tri Mumpuni mengungkapkan, pada 1999 dirinya mungunjungi desa ini, rumah-rumah warganya banyak berada di atas bukit, sementara ketersediaan air ada di bawah bukit.

"Jadinya tiap hari Ibu-Ibu mengambil air di bawah bukit lalu di bawah ke rumahnya di atas, sedangkan Bapak-Bapaknya pergi ke ladang," ujar Tri ditemui di sela Kunjungan Kerja Menteri ESDM Sudirman Said di Sumba Timur, menengok proyek kelistrikan dari energi baru terbarukan, Rabu (8/4/2015).

Tri mengungkapkan, setiap harinya Ibu-Ibu harus menghabiskan waktu 7 jam lamanya untuk mengumpulkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

"Saya bertanya ke warga desa, kalau Ibu-Ibunya sudah tua nggak sanggup lagi ambil air bagaimana? Jawab Bapak-Bapaknya ya cari Ibu-Ibu yang lain, alias kawin lagi," kata Tri sambil tertawa.

Kondisi ini tentunya tidak boleh dibiarkan. Melalui lembaga Ibeka yang diasuhnya, Tri membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang terletak di Bakuhau, Desa Kamanggih.

Pembangunannya dilakukan mulai 17 Januari 2011 oleh Ibeka dengan dukungan Hivos, sebuah lembaga non pemerintah berskala internasional, dan resmi beroperasi pada 19 November 2011. Listrik yang dihasilkan mencapai 37 kilo watt (KW) dan dapat mengaliri listrik rumah tangga sebanyak 296 rumah tangga.

"Listriknya salah satunya digunakan untuk menyedot air dari bawah bukit ke atas, jadi tidak perlu habiskan waktu 7 jam lamanya untuk angkut air dari bawah," ungkap Tri yang dijuluki 'Wanita Listrik' ini.

Dampak lain, waktu 7 jam yang bisa dihemat Ibu-Ibu, karena tidak lagi ambil air di bawah bukit, dimanfaatkan para ibu untuk menenun kain, sehingga menambah pendapatan keluarga.

"Betapa besarnya dampak adanya listrik ini, meningkatkan taraf hidup masyarakat di desa, dari yang dulu tak punya listrik sama sekali, ada listrik pendapatan keluarga bertambah," tutup Tri.

Tri Mumpuni sering dijuluki 'Wanita Listrik', karena kepeduliannya membangun pembangkit listrik tenaga air yang ramah lingkungan sudah menerangi lebih dari 61 desa di tanah air.

Akibat jasa tersebut Tri berhasil mendapatkan Nobel atau award Ashden Awards 2012. Asdhen adalah lembaga swadaya masyarakat Inggris yang terlibat dalam energi ramah lingkungan. Pangeran Charles menjadi salah seorang penaung Ashden Awards.

(rrd/dnl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT