Ndiame Diop, Lead Economist and Economic Advicer Bank Dunia untuk Indonesia, mengatakan penurunan harga si emas hitam sangat membantu mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Berita baiknya, harga minyak yang rendah membuat neraca perdagangan menjadi terbantu karena nilai impor migas berkurang. Apalagi subsidi energi sudah berkurang sekali. Jadi neraca bagus," jelasnya di kantor perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Jakarta, Senin (13/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini membuat anggaran subsidi berkurang drastis dari Rp 276 triliun pada 2014 menjadi Rp 88 triliun dalam APBN-Perubahan 2015. Pemerintah pun bisa menambah anggaran pembangunan infrastruktur naik sampai Rp 100 triliun.
"Dana energi subsidi untuk infrastruktur, itu caranya. Banyak pembangunan infrastruktur, itu akan memberikan manfaat. Penghapusan subsidi BBM itu merupakan hal yang baik bagi Indonesia dan juga orang-orang Indonesia," jelas Diop.
Namun, tambah Diop, penurunan harga minyak juga membawa risiko bagi Indonesia yaitu berkurangnya pendapatan negara dari sektor migas. Dia berharap pemerintah punya langkah untuk mengatasi risiko ini.
"Ada dampak negatif ke pendapatan. Di sektor migas mengecil," kata dia.
(drk/hds)











































