Industri Tambang 'Mati Suri', Anak Usaha Pertamina Ini Pusing

ADVERTISEMENT

Industri Tambang 'Mati Suri', Anak Usaha Pertamina Ini Pusing

- detikFinance
Senin, 13 Apr 2015 17:54 WIB
Foto: Ilustrasi
Jakarta -

Anak usaha PT Pertamina (Persero), yakni PT Pertamina Patra Niaga harus memutar otak agar tetap bisa bertahan dan meraup untung. Pasalnya, 80% pasarnya ada di sektor pertambangan, dan sektor ini banyak yang tutup dan berhenti operasi, karena harga komoditas lesu.

"Kondisi tambang sekarang sedang kusut ya, pasarnya menciut, harga batu baranya anjlok kan. Sekarang perusahaan batu bara bekerja pada titik yang tidak optimal. Artinya mereka produksi tapi tetap rugi, tapi bagaimana caranya ruginya tidak gede-gede amat," ungkap Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Ferdy Novianto ditemui di kantornya, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (13/4/2015).

Ferdy mengatakan, Pertamina Patra Niaga selaku perusahaan pemasok bahan bakar, menggantungkan sebagian bisnisnya pada sektor pertambangan. Sebanyak 70% pasokan bahan bakar minyak (BBM) Pertamina Parta Niaga berasal dari impor, dan dijual kepada perusahaan tambang.

"Jadi 80% pasar kita itu dari tambang, mulai dari batu bara, nikel, dan bauksit. Apalagi sekarang kan nikel dan bauksit tidak boleh ekspor, jadi pada mati suri semua atau berhenti produksi," katanya.

Sekarang ini, perusahaan pemasok BBM seperti Patra Niaga sedang pusing, pasalnya banyak perusahaan tambang yang belum melunasi pembayaran tagihan bahan bakarnya.

"Seperti AKR, kami itu pusing juga, menagih perusahaan tambang suruh bayar, jual memang mudah menagihnya itu susah. Tahun lalu saja banyak piutang-piutang yang belum dibayar sampai sekarang," katanya.

Ia menambahkan, agar tetap terus meraup laba tahun ini, pihaknya mencoba menggarap potensi di sektor lain, seperti bunker, penjualan bahan bakar bagi kapal-kapal, perkebunan seperti kepala sawit, perhotelan, dan industri.

"Kita tidak bisa lagi bertumpu pada tambang. Harus ada diversifikasi," tutup Ferdy.

Pertamina Patra Niaga merupakan salah satu anak usaha Pertamina yang awalnya sebelumnya bernama PT Elnusa Harapan. Pada 2004 berubah nama menjadi PT Pertamina Patra Niaga, sebagai perusahaan yang khusus bergerak di bidang usaha sektor hilir industri minyak dan gas (Migas).

Dalam mendapatkan pasokan BBM, Patra Niaga dapat impor langsung tanpa harus melalui Pertamina atau Integrated Supply Change (ISC). Patra Niaga layaknya badan usaha swasta lainnya, menjual BBM ke industri, hotel, dan pertambangan. BBM yang dijual merupakan non BBM subsidi.
 
Akan tetapi, meski bisnis tambang tengah lesu. Pertamina Patra Niaga masih menargetkan laba US$ 80 juta di tahun ini. Target itu meningkat dari laba tahun lalu US$ 37,02 juta.

"Tahun lalu laba kita hanya US$ 37,02 juta, tahun ini targetnya US$ 80 juta. Kelihatannya tinggi, tapi sebenarnya tahun lalu laba kita harusnya bisa mencapai US$ 70 juta, tapi karena ada denda pajak, kena rugi kurs, ada piutang dua tahun yang belum bisa tertagih (belum dibayar) jadinya terpotong hanya US$ 37,02 juta," jelas Ferdy.

Selain itu, tahun ini Patra Niaga mendapat berkah, di mana induk perusahaanya yakni Pertamina, memberikan beberapa pelanggannya yang permintaan BBM-nya besar untuk pasokan BBM-nya dilayani oleh Patra Niaga.

"Seperti Pama, Kideco kemudian Banpu kita akan kita pegang, karena Pertamina kalau tetap pasok rugi, karena produksi BBM-nya mahal sementara dalam kontraknya harganya terlalu murah, karena ada penurunan harga minyak dunia," ucapnya.

"Kalau Patra Niaga, kita masih bisa jual BBM ke industri dengan harga murah, karena kita sebagian besar dari impor, yang harganya hanya 101% dari MOPS (Mean of Platts Singapore), sementara produksi kilang Pertamina itu rata-rata 110% dari MOPS," tutupnya.

(rrd/dnl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT