Ada Desakan RI Pakai Listrik Tenaga Nuklir, JK: Kita Sembrono

Ada Desakan RI Pakai Listrik Tenaga Nuklir, JK: Kita Sembrono

- detikFinance
Selasa, 14 Apr 2015 11:40 WIB
Ada Desakan RI Pakai Listrik Tenaga Nuklir, JK: Kita Sembrono
reuters
Jakarta -

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengupas satu per satu soal plus minus energi sebagai sumber listrik di dalam negeri. Salah satunya sumber energi nuklir atau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yang kini mulai ada desakan untuk dibangun untuk mengatasi masalah krisis listrik.

Namun JK mengatakan untuk menggunakan PLTN harus ada berbagai pertimbangan, yaitu soal prinsip kehati-hatian karena sumber energi ini berisiko tinggi terhadap kebocoran reaktor yang berimbas pada lingkungan dan kesehatan manusia. Jepang sebagai negara yang banyak pakai PLTN, juga pernah mengalami soal tak mudahnya mengelola PLTN apalagi dari risiko gempa.

"Nuklir, Jepang sudah turunkan karena Fukushima. AS, Prancis, Jerman jalan terus kembangkan nuklir, tapi kalau di Jawa masih banyak pilihan energi," kata JK dalam Seminar Indonesia dan Diversifikasi Energi, Menentukan Arah Kebijakan Energi Indonesia, Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (14/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain pertimbangan keselamatan, juga soal pertimbangan lokasi. JK mengatakan di Bangka-Belitung memang banyak sumber energi untuk nuklir namun kebutuhannya sedikit, sedangkan di Jawa lebih banyak butuh listrik.

"Kita sembrono, nuklir itu besar 1.000 MW, tentu yang cocok di Jawa karena kebutuhannya tinggi, Belitung bisa tapi kebutuhannya kecil, mau bawa ke Jawa nggak bisa, di Kalimantan nggak ada sumber nuklirnya," katanya.

Selain nuklir, JK juga mengungkapkan ada sumber energi listrik yaitu tenaga angin. Namun sumber listrik dari angin, butuh lokasi yang tepat dengan keberlanjutan jumlah, tenaga angginnya, dan terobosan teknologi.

"Angin, yang bisa bekerja 24 jam di bawah 20% cuma seperti di NTT, kita harus cari teknologi kalau ada cuma angin sepoi-sepoi bisa tetapkan hasilkan listrik," katanya.

Selain itu, ada sumber listrik lainnya yaitu energi panas matahari atau energi surya, namun lagi-lagi sumber energi ini juga punya kelemahan, selain keterbatasan waktu juga soal tempat penampungan listrik yang hingga kini belum ada yang mumpuni.

"Surya sama, bekerja 10 jam, masalah terbesar adalah baterainya, di Indonesia kita butuh listriknya malam, di China itu peak-nya justru siang, kita justru malam, jadi butuh baterai, 2 juta dolar harga baterai per 1 MW," kata JK.

JK juga mengungkapkan soal pembangkit listrik tenaga air (PLTA), Indonesia punya potensi 75.000 MW. Namun sumber energi ini harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan agar pasokan air tetap terjaga. Bila lingkungan tak terjaga, maka PLTA tak berkelanjutan.

"Hutan habis mati hidronya, itu yang terjadi pada Jatiluhur (Waduk di Purwakarta Jawa Barat). Hutannya rusak," katanya.

(hen/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads