"Kita dukung penuh. Karena kan sebenarnya kebutuhan masyarakat itu terhadap BBM dengan harga murah antusiasmenya tinggi. BBM itu kan pasti masyarakat ingginnya harganya murah, kalau perlu yang oktannya 95 juga murah. Tapi kan nggak mungkin bensin oktan 95 murah, jalan keluarnya ya itu. Kalau RON 88 dianggap ketinggalan zaman, ya inilah produk baru Pertamina RON-nya 90-91," kata Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi, kepada detikFinance, Jumat (17/4/2015).
Ia mengakui, dulu ketika pemerintah melarang penjualan premium di SPBU jalan tol pada akhir 2014, para pengusaha protes, karena omzet langsung turun. Namun, kali ini, walaupun premium dihapus dan digantikan dengan bensin baru yang namanya Pertalite, pengusaha SPBU justru mendukung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eri menambahkan lagi, satu hal yang membuat pengusaha SPBU lebih mendukung lagi keberadaan Pertalite daripada Premium adalah, fee atau komisi dari Pertamina pastinya jauh lebih tinggi.
"Seharusnya kalau SPBU jual Premium kan marginnya Rp 270/liter, kalau jual Pertalite kan marginnya harus lebih tinggi dong. Karena itu kan bukan bensin subsidi. Harusnya margin usahanya bisa seperti Pertamax yang mencapai Rp 375/liter, harapan kita sih Pertalite fee-nya Rp 375 juga dong," tutupnya.
(rrd/dnl)











































