Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, penghapusan bensin Premium seperti rekomendasi pemerintah dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas memang menjadi tantangan bagi Pertamina. Karena kilang-kilang yang dimiliki Pertamina berusia tua.
"Sekarang tantangan berat bagi Pertamina ini adalah, pembangunan dan perbaikan kilangnya. Kilang-kilang Pertamina itu sudah pada tua. Kilang itu ada yang sudah 40 tahun, kilang yang paling muda adalah kilang Balongan (Indramayu, Jawa Barat)," kata Sofyan di kantornya, Jakarta, Jumat (17/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lagi, kata Sofyan, bahan minyak mentah yang dibutuhkan oleh kilang-kilang tersebut adalah minyak ringan yang makin sulit mendapatkannya.
"Perbaikan kilang itu butuh duit banyak. Untuk kilang produksi 300 ribu barel per hari, perlu investasi di atas US$ 10 miliar atau di atas Rp 130 triliun. Dan itu perlu waktu, 3-4 tahun," ujar Sofyan.
"Lalu kita mau hilangkan RON 88, maka terpaksa kita tutup semua kilang. Implikasinya kalau kita tutup kilang kita, kita terpaksa impor produk-produk itu yang sudah jadi 100%," imbuh Sofyan.
Di kilang yang sudah tua ini, bensin yang bisa diproduksi hanya bensin RON di bawah 90. Sehingga, Pertamina harus mengimpor bahan bensin RON 95 yang diturunkan lewat percampuran dengan bensin hasil kilang yang RON-nya sekitar 80. Dari percampuran ini dihasilkan bensin RON 88 atau bernama Premium.
(dnl/hen)











































