Meski demikian, Menteri ESDM Sudirman Said menegaskan pihaknya belum berencana mengajukan perubahan. Dia menilai target asumsi lifting minyak 825.000 barel/hari masih relevan.
"Kami sendiri belum melihat ada tanda-tanda koreksi dari target lifting," ujarnya kala ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi sepertinya 825.000 barel/hari itu angka yang realistis untuk dicapai. Kami tak akan menutupi apa pun, kita akan sampaikan. Yang penting effort sudah maksimal," jelas Sudirman.
Sebelumnya, Deputi Pengendalian Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Muliawan mengatakan, produksi minyak masih terbilang cukup rendah yakni pada kisaran 790.000 barel/hari. Angka ini lebih rendah dari realisasi produksi minyak tahun lalu yang mencapai rata-rata 794.250 barel/hari.
Muliawan mengatakan, penurunan produksi tersebut terjadi karena kondisi alami. Setiap tahun produksi sumur migas pasti turun, tetapi laju penurunan ini yang diantisipasi SKK Migas agar jangan sampai anjlok.
Namun, lanjut Muliawan, pihaknya tetap optimistis produksi minyak nasional akan mulai merangkak naik. Pasalnya, produksi minyak dari Lapangan Bukit Tua yang dikelola Petronas Carigali akan mulai masuk pada Maret. Ada juga tambahan produksi dari Blok Cepu.
"Bukit Tua baru mau masuk. Kemudian, Blok Cepu Maret ini naik dari 40.000 barel/hari menjadi 70.000 barel/hari. Setelah ada produksi dari kedua blok ini, produksi pasti naik," jelas Muliawan.
(hds/ang)











































