"Premium tetap akan disediakan pemerintah melalui Pertamina. Lahirnya Pertalite hanya sebagai penambah varian bahan bakar saja di masyarakat," ujar Pelaksana Tugas Direktur Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wiratmaja Puja di Kantornya, Plaza Centris, Kuningan, Jakarta, Senin (20/4/2015).
Padahal, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin Faisal Basri sudah 'berteriak' lama bahwa Premium harus dihapuskan, karena menjadi biang polemik soal harga BBM di dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertalite memiliki RON 90, di pasar minyak internasional masih cukup banyak dijual, apalagi bensin ini memiliki zat aditif yakni EcoSAVE yang membuat tarikan mesin lebih tinggi, irit bahan bakar dan ramah lingkungan. Selain itu, harganya tidak terlalu mahal, bahkan Pertamina siap memberikan harga promo.
"Kita akan jual Pertalite dengan harga promo, pakai batas bawah, pemerintah memberikan batas margin keuntungan 5%-10%, tapi kalaupun hanya 2% tapi masih untung kan tidak ada masalah, yang penting konsumen mau pindah dari Premium ke Pertalite," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang.
Menteri ESDM Sudirman Said, pernah membuat pernyataan bila Premium akan dihapuskan paling lama 2 tahun. Entah penghapusan itu secara bertahap atau langsung.
"Kuota Premium tidak akan dikurangi, tidak ada premium digantikan dengan RON 90 atau Pertalite. Terkait batas waktu 2 tahun premium dihapuskan, kami instruksikan ke Pertamina untuk revitalisasi kilang-kilangnya, Pertamina butuh waktu 2 tahun untuk revitalitasi. Dengan Demikian Menteri ESDM memberi waktu 2 tahun sejalan dengan kesiapan Pertamina," kata Wiratmaja.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menegaskan, pihaknya saat ini sedang melakukan peningkatan kemampuan kilang atau Refining Development Masterplan Programe (RDMP).
"Dengan program RDMP tersebut kapasitas produksi kilang bertambah (jadi 1,6 juta barel per hari) kita harapkan bisa secepat mungkin. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan konsumen," ucapnya.
Menurut Dwi, yang harus menjadi perhatian Pemerintah bila Premium dihapuskan, apakah daya beli masyarakat bisa untuk membeli Pertamax?
"Makanya bahwa produk-produk yang kami luncurkan (Pertalite) tidak lepas dari mengakomodir daya beli masyarakat," kata Dwi.
Kilang Pertamina Siap
Spesifikasi bensin Pertalite adalah RON 90, namun produksi produk terbaru Pertamina yang akan diluncurkan bulan depan ini bisa dilakukan di semua kilang Pertamina di Indonesia.
"Produksi Pertalite ini bisa dilakukan di semua kilang, kan prinsipnya hanya memblending saja (campur)," ujar Ahmad Bambang.
Bambang mengatakan, Keberadaan Pertalite nantinya justru akan membuat impor premium akan berkurang, tapi meningkatkan impor HOMC (High Octane Mogas Component).
"Jadi kita langsung impor HOMC, kalau ada sisa produksi nafta, tinggal dicampur HOMC yang ronnya lebih tinggi jadinya RON 90, atau murni impor HOMC RON 90, tidak lagi impor premium," ungkapnya.
Bambang mengakui saat ini kondisi sebagian besar kebutuhan BBM Indonesia harus dipasok melalui impor, karena kapasitas kilang minyak nasional tidak mencukupi. Berdasarkan data Kementerian ESDM kebutuhan BBM nasional mencapai 1,5 juta barel per hari, sementara kapasitas pengolahan Kilang Pertamina kurang dari 1 juta barel per hari.
"Ya kehadiran Pertalite ini akan menambah impor BBM, tapi menurunkan impor premium," kata Ahmad Bambang.
(rrd/hen)











































