Bahkan, perusahaan asal Prancis tersebut menawarkan saham blok migasnya yang ada di beberapa negara kepada Pertamina.
"Kita punya hak untuk mengoperasikan Blok Mahakam atas wewenang dari pemerintah sampai 2017. Setelah 2017 kita tidak berhak lagi, Blok itu diberikan ke pemerintah/negara. Selanjutnya sedang kita bicarakan ke pemerintah, kita siap ingin membantu menjaga produksi di Blok Mahakam," ungkap Presedir Total E&P Indonesie Hardy Pramono, di Kantornya, Gedung WTC 2, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (21/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Opsi swap blok migas sudah kita mulai bicarakan. Total itu kan ada di 120 negara, ya jadi nggak cuma di Indonesia saja. Jadi ya nanti kita lihat misalnya beberapa blok di Afrika, apakah mungkin ada di Kanada, bisa kita nanti sudah mulai bicarakan," ungkapnya.
Hardy menegaskan kembali, pihaknya siap untuk bekerjasama dengan Pertamina untuk menjaga produksi di Blok Mahakam tetap berjalan dengan baik, tapi setelah kontraknya berakhir pada 31 Desember 2017.
"Kita siap membantu menjaga produksi," tutupnya.
Seperti diketahui, kontrak pengelolaan Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation di Blok Mahakam berakhir pada 31 Desember 2017. Pemerintah Indonesia sudah memutuskan untuk memberikan hak pengelolaan Blok tersebut ke Pertamina.
Blok Mahakam merupakan penghasil gas utama atau terbesar di Indonesia. Agar produksinya tidak anjlok Pemerintah mengharapkan agar ada masa transisi, di mana Pertamina masuk ikut mengelola blok mahakam sebelum kontrak berakhir.
Namun Total menegaskan, masa transisi sebelum kontrak berakhir tidak ada dalam kontrak PSC Blok Mahakam. Total meminta pemerintah tetap menghormati kontrak tersebut.
(rrd/dnl)










































