Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Ferdy Novianto mengatakan, biosolar memang bahan bakar yang bagus, apalagi di dalamnya mengandung 15% bahan bakar nabati (BBN) yakni Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang terbuat dari minyak kepala sawit atau CPO.
"Dipakai ke kendaraan, kotoran atau kerak di dalam mesin rontok semua, sehingga pemakaian pertama, pemilik kendaraan disarankan mengganti saringan, takutnya tersumbat. Tapi risikonya karet seal pada mesin termakan juga, ya kan, kerak saja rontok apalagi karet seal," kata Ferdy kepada detikFinance, Jumat (24/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Pertamina saja, kalau FAME-nya tidak segera habis terjual, di tangki penampungan FAME-nya 1,5 bulan akan berlumut," katanya.
Lalu bagaimana dengan solar campur air ini?
"Kita sudah uji coba, campuran solar murni 65%, 10% air, 15% fatty acid, dalam lima tahun campurannya tidak berubah, tetap menyatu dan baik. Jadi solar ini bisa menjadi salah satu opsi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor solar," kata Ferdy.
Kalau solar campur air ini bisa menjadi program pemerintah seperti biodiesel 15%, maka sangat menghemat devisa negara lebih banyak lagi dalam pengadaan impor BBM.
"Kita sedang minta waktu ke Menteri ESDM Sudirman Said, untuk persentasi terkait solar campur air ini, kita juga sudah uji coba sejak 2008, semoga ini berjalan lancar," tutupnya.
(rrd/dnl)











































