"Kita berpikir bagaimana membangun efisiensi proses bisnis di Pertamina. Maka kita fungsikan ISC untuk memindah proses pembelian impor crude atau produk (sebelumnya ditangani Petral)," kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, ditemui di Kantor Pertamina Pusat, Rabu (29/4/2015).
Dwi mengungkapkan, dengan pengadaan impor BBM ditangani ISC, Pertamina dapat memotong rantai bisnis dalam pengadaan BBM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal tahu saja, dalam sebulan Pertamina membutuhkan impor premium hingga 10 juta barel, atau 70% dari total kebutuhan premium nasional per bulannya.
Setelah fungsi utama Petral dialihkan ke ISC, Pertamina mengkaji untuk merestrukturisasi Petral, namun tentunya harus persetujuan komisaris dan pemegang saham yakni pemerintah melalui Kementerian BUMN.
"Aset-aset Petral nantinya akan diambil alih ke Pertamina," ucap Dwi.
Direktur Sumber Daya Manusia SDM Pertamina, Dwi Wahyu Daryoto mengatakan, aset Petral yang diambil alih ke Pertamina tidak hanya berupa aset barang, tetapi termasuk para pekerjanya, karena pekerja Petral adalah pekerja Pertamina.
"Asetnya ini termasuk manusi, kita sedang dan sudah melakukan restrukturisasi dan sistem reorganisasi," kata Dwi.
Namun kata Dwi, walau Petral tidak lagi mengurusi impor minyak dan BBM Pertamina, dan sejak awal tahun menjadi perusahaan trader murni, laba atau keuntungan Petral pada kuartal I-2015 mencapai 46% dari laba 2015.
"Cukup menarik dengan proses 3 bulan yang dilakukan. Kuartal I-2015 mereka sudah mencapai 46% net profit dari target 2015. Yang menarik lagi adalah Petral berfungsi benar-benar sebagai trader, bukan hanya dengan Pertamina. Itu volumenya hampir sebesar 6,4 juta barel. Kalau dibandingkan kuartal I-2014 itu mencapai 209%," tutup Dwi.
(rrd/dnl)











































