"Capacity Factor (CF) atau tingkat pembangkit menghasilkan listrik selama setahun di PLTB Samas, Yogyakarta ini hanya 27,4%. Tapi kalau PLTB di Sidrap CF-nya lebih bagus 31,5%, dia sangat besar tapi selama setahun tidak selalu menghasilkan listrik," ungkap Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Rida Mulyana, kepada detikFinance, Selasa (5/5/2015).
Rida mengatakan, PLTB ini juga tidak berputar selama 24 jam, tergantung intensitas angin, sehingga ada bulan-bulan tertentu turbin angin tersebut tidak berputar sama sekali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rida menambahkan, walau tidak sepanjang tahun PLTB tersebut menghasilkan listrik atau turbinnya tidak berputar karena tidak ada angin, namun tidak akan menimbulkan masalah khususnya bagi masyarakat di sekitar PLTB Samas, Yogyakarta.
"Kan listriknya masuk ke jaringan transmisi Jawa-Bali, kalau PLTB-nya tidak berputar atau tidak menghasilkan listrik, ya nggak ada masalah, masyarakat sekitar nggak mati lampunya, kan jaringan trasmisi Jawa-Bali pasokan listriknya banyak dari berbagai pembangkit, cadangan listriknya juga lebih dari 30%," jelasnya.
Ia mengakui, satu turbin angin PLTB Samas selain menghasilkan listrik sangat besar mencapai 2 megawatt yang bisa melistriki ratusan rumah, dari segi ukuran turbin juga sangat besar sekali.
"Industri kita belum ada yang produksi turbin sebesar di PLTB Samas, tingginya saja mencapai 120 meter lebih, diameter baling-balingnya saja mencapai 120 meter, besarnya tiang atau menara turbin besar sekali, untuk tapak satu turbin saja membutuhkan lahan 30.000 meter persegi," tutup Rida.
(rrd/dnl)











































