"Cari lokasi yang cocok untuk lokasi PLTB itu nggak mudah loh ya, orang itu harus survei selama satu tahun penuh, hitung berapa kecepatan angin, sampai ada angin pada bulan-bulan apa saja, berapa Capacity Factor-nya," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Rida Mulyana, kepada detikFinance, Selasa (5/5/2015).
Rida mengatakan, sebenarnya ada lokasi yang paling bagus didirikan PLTB yakni di Sumba, Nusa Tenggara Barat. Tapi, tidak bisa dibangun dalam kapasitas yang besar seperti di Sidrap atau di Samas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengakui, memang masih banyak sekali masyarakat di Sumba belum menikmati listrik hampir 70 tahun Indonesia merdeka. Tapi masalahnya, warga di Sumba tersebar rumahnya.
"Jarak satu rumah ke rumah lain jauh-jauh, kalau dikumpulin satu lokasi rumah penduduknya, kita bangunkan pembangkit. Makanya yang cocok di Sumba itu hanya cocok PLTB yang ukurannya kecil-kecil hanya 500 watt," ungkapnya.
Sementara di Pulau Jawa konsumsi listriknya besar, penduduknya banyak, tapi anginnya tidak terlalu maksimal. Seperti di Samas kata Rida, CF saja hanya 27,4%.
"Ada yang lumayan bagus di Sumedang, anginnya lumayan bagus," katanya.
Rida menambahkan, pembangunan PLTB sebesar di Pantai Samas yang tingginya mencapai 120 meter juga tidak mudah.
"Bawa pipa besi setinggi 120 meter itu juga tidak mudah, setinggi itu juga risiko lainnya disambar petir, kalau anginnya tiba-tiba besar terus roboh juga harus diantisipasi juga," tutupnya.
(rrd/hen)











































