"Sistem jual-beli listrik dari rumah yang pasang solar cell ini sudah lama diterapkan di Belanda dan India. Banyak juga di negara lainnya," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Rida Mulyana, Jakarta, Rabu (6/5/2015).
Rida mengatakan, pemerintah akan mendorong masyarakat mau investasi untuk memasang solar cell di atap rumahnya. Salah satunya dengan mengeluarkan aturan tarif listrik yang dijual ke PLN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengakui, saat ini harga solar cell masih terbilang cukup mahal, sekitar Rp 3 juta per lembar dengan kapasitas listrik yang dihasilkan sekitar 250 watt. Tapi, Ditjen EBTKE telah membangun pabrik solar cell di Subang dengan kapasitas 200 megawatt/tahun.
"Kalau banyak yang gunakan, investor juga bangun pabrik di sini, pasti harga solar cell turun, jadi investasi yang dikeluarkan juga tambah murah," ucapnya.
Apalagi, sejalan dengan target pemerintah membangun 1 juta rumah tahun ini, di mana 65%-nya merupakan rumah tapak, pihaknya sudah siap memasangi atap rumahnya dengan atap solar cell.
"Harganya kita subsidi sampai 70%, jadi lebih murah. Target kami 40% dari 65% rumah tapak yang dibangun atapnya pakai solar cell semua," tutup Rida.
(rrd/dnl)











































