"Bayangkan, sebuah perusahaan seringkali menghabiskan 30% biaya perusahaannya untuk membeli energi," kata CEO EMI, Aris Yunanto kepada detikFinance, Rabu (6/5/2015).
Aris mengatakan, banyak perusahaan yang boros energi di dalamnya tidak memiliki struktur manajemen yang mengurusi konsumsi energi perusahaan. Tidak semua perusahaan memiliki seorang manajer energi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, pemerintah sudah mengeluarkan Permen PUPR 02/PRT/M/2015 yang mengajukan yang mewajibkan setiap gedung pemerintahan yang baru dibangun, harus menerapkan konsep green building.
"Bila aturan ini tidak hanya berlaku bagi gedung pemerintahan saja, tapi juga meliputi fasilitas publik seperti pasar, rumah sakit, sekolah, pusat perbelanjaan, bahkan bangunan komersial dan rumah tangga, maka dampaknya akan sangat bagus," ucapnya.
Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana, mengakui, jumlah manajer energi di Indonesia memang sangat minim sekali, pasalnya seorang manajer energi harus memiliki sertifikat khusus.
"Jumlah manajer energi itu memang langka, jarang perusahaan punya. Dia punya sertifikat khusus. Tugas dia mengefisiensikan penggunaan energi di suatu perusahaan, agar lebih hemat. Perusahaan juga belum terlalu perhatian pada posisi ini, karena untuk bisa hemat biaya yang dikeluarkan juga tinggi, mulai dari beli peralatan yang lebih hemat energi, mengubah tata ruang kantor atau gedung agar lebih banyak mengandalkan sinar matahari di siang hari," ungkapnya.
"Seperti di gedung kita (EBTKE), jendelanya besar-besar, sehingga pagi-siang tidak perlu nyalakan lampu untuk penerangan lampu kantor, cukup buka gorden sudah cukup," tutup Rida.
(rrd/dnl)











































