Ahli-ahli Nuklir RI akan Masuk Masa Pensiun, PLTN Tak Juga Dibangun

Ahli-ahli Nuklir RI akan Masuk Masa Pensiun, PLTN Tak Juga Dibangun

Rista Rama Dhany - detikFinance
Senin, 11 Mei 2015 17:37 WIB
Ahli-ahli Nuklir RI akan Masuk Masa Pensiun, PLTN Tak Juga Dibangun
Jakarta - Zaman Menristek BJ Habibie 1980-an, Indonesia banyak mengirim putra-putrinya keluar negeri untuk sekolah di bidang nuklir. Sudah lulus dan bahkan mau masuk masa pensiun, tidak ada satu pun PLTN yang dibangun.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto mengakui, ahli-ahli nuklir yang disekolahkan pada 1980-an dan lulus pada 1993-an, saat ini dalam beberapa tahun lagi akan memasuki masa pensiun.

"Termasuk saya yang disekolahkan, sebentar lagi mau masuk masa pensiun," kata Djarot kepada detikFinance, Senin (11/5/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Djarot mengatakan, jumlah ahli-ahli nuklir yang dimiliki Indonesia cukup banyak, karena pada 1980-an, setiap tahun dikirim puluhan orang ke luar negeri.

"Waktu itu Pak Habibie mendapatkan dana dari Bank Dunia, setiap tahun disekolahkan puluhan orang, kalau nggak salah ada 4-5 kali angkatan," ucapnya.

Djarot mengungkapkan lagi, jumlah ahli nuklir Indonesia yang bergelar profesor dan doktor mencapai 300 orang lebih.

"Kita sekarang punya 100 profesor di bidang nuklir, kita punya 300 lebih doktor di bidang nuklir," katanya.

Ia menambahkan, bila tidak termanfaatkan artinya Indonesia tidak segera membangun PLTN, maka Indonesia akan kehilangan ilmu dari ahli-ahli nuklir ini, pasalnya mereka akan masuk masa pensiun dalam beberapa tahun lagi. Sementara untuk membangun PLTN membutuhkan waktu 10 tahun lebih.

"Termasuk saya beberapa tahun lagi mau pensiun. Memang untuk mempertahankan kita punya ahli di bidang nuklir, di ITB dan UGM ada jurusan nuklir, tapi level sekolahnya baru Diploma III," tutup lulusan Universitas Tokyo ini.

(rrd/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads