Menristek: Kalau Nuklir Berbahaya, AS Hingga Prancis Sudah Hancur

Menristek: Kalau Nuklir Berbahaya, AS Hingga Prancis Sudah Hancur

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 12 Mei 2015 13:34 WIB
Menristek: Kalau Nuklir Berbahaya, AS Hingga Prancis Sudah Hancur
Foto: Reuters
Jakarta - Survey Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menunjukkan ada 72% masyarakat Indonesia sudah mendukung pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), tapi masih cukup banyak juga yang takut terhadap keberadaan PLTN. Namun, kalau pembangkit listrik ini berbahaya sudah dari dulu Amerika Serikat (AS) hingga Prancis sudah hancur akibat dari nuklir.

"Kenapa kita nggak mulai-mulai bangun PLTN, karena masih banyak masyarakat takut sama bahayanya nuklir. Sebenarnya nuklir itu nggak apa-apa, aman-aman saja. Kalau bahaya Amerika Serikat sudah tenggelam, Jepang, Prancis dan Finlandia sudah hancur dari dulu," ungkap Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (12/5/2015).

Nasir mengatakan, negara-negara tersebut sudah lama memanfaatkan nuklir sebagai pemasok kebutuhan listrik rakyatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahkan Uni Emirat Arab 2020 sudah punya 4 PLTN, masak kita nggak segera bangun," katanya.

Ia mengakui, Presiden Joko Widodo memang belum menegaskan pembangunan PLTN di Indonesia, tetapi Jokowi sudah mengetahui rencana pembangunan reaktor nuklir yang baru dengan kapasitas 30 mega watt (MW) di Serpong, Tangerang Selatan.

"Pak Jokowi mendukung pembangunan reaktor nuklir 30 MW di Serpong. Reaktor ini untuk kesehatan dan pangan, tapi bisa juga menghasilkan listrik. Sementara Pak JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla) tidak menolak keberadaan PLTN, tapi syaratnya jangan bangun di halaman dia," ungkap Nasir.

Ia menambahkan, sudah banyak investor yang berminat investasi pembangunan PLTN di Indonesia, namun pemerintah belum membuka ruang, karena masih fokus membangun pembangkit listrik 35.000 MW dan memaksimalkan penggunaan energi baru terbarukan.

"Tapi kalaupun mau dibangun PLTN, daerah yang cocok itu ada di Belitung, Jepara, dan Kalimantan Selatan," tutupnya.

Seperti diketahui, berdasarkan survei nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) 2014, 72% masyarakat Indonesia sudah setuju bila PLTN dibangun di Indonesia.

(rrd/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads