"Kenapa kita nggak mulai-mulai bangun PLTN, karena masih banyak masyarakat takut sama bahayanya nuklir. Sebenarnya nuklir itu nggak apa-apa, aman-aman saja. Kalau bahaya Amerika Serikat sudah tenggelam, Jepang, Prancis dan Finlandia sudah hancur dari dulu," ungkap Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (12/5/2015).
Nasir mengatakan, negara-negara tersebut sudah lama memanfaatkan nuklir sebagai pemasok kebutuhan listrik rakyatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengakui, Presiden Joko Widodo memang belum menegaskan pembangunan PLTN di Indonesia, tetapi Jokowi sudah mengetahui rencana pembangunan reaktor nuklir yang baru dengan kapasitas 30 mega watt (MW) di Serpong, Tangerang Selatan.
"Pak Jokowi mendukung pembangunan reaktor nuklir 30 MW di Serpong. Reaktor ini untuk kesehatan dan pangan, tapi bisa juga menghasilkan listrik. Sementara Pak JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla) tidak menolak keberadaan PLTN, tapi syaratnya jangan bangun di halaman dia," ungkap Nasir.
Ia menambahkan, sudah banyak investor yang berminat investasi pembangunan PLTN di Indonesia, namun pemerintah belum membuka ruang, karena masih fokus membangun pembangkit listrik 35.000 MW dan memaksimalkan penggunaan energi baru terbarukan.
"Tapi kalaupun mau dibangun PLTN, daerah yang cocok itu ada di Belitung, Jepara, dan Kalimantan Selatan," tutupnya.
Seperti diketahui, berdasarkan survei nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) 2014, 72% masyarakat Indonesia sudah setuju bila PLTN dibangun di Indonesia.
(rrd/hen)











































