Hal tersebut seperti diungkapkan Menteri ESDM Sudirman Said, saat masih bekerja di PT Pertamina (Persero) pada 2008-2009.
"Tahun 2008-2009, saya bantu di Pertamina untuk rancang supply chain management. Itu secara common sense mudah, tapi karena ada interest (kepentingan) yang gampang jadi sulit," kata Sudirman saat berbicara pada acara kerjasama PT Pertamina (Persero) dan PT Adaro Energy Tbk di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini harus kita perangi, nanti siang kita rapat dengan Bu Menteri BUMN untuk reformasi supply chain BBM di kantor Menteri BUMN," ujarnya.
Salah satu contohnya, sudah bertahun-tahun cadangan operasional BBM nasional hanya mencapai 18 hari saja. Padahal di negara lain memiliki cadangan BBM minimal cukup selama 6 bulan. Apalagi bila bicara mengenai cadangan BBM strategis nasional, Indonesia tidak memiliki satu liter pun, sementara negara lain paling sedikit punya 6 bulan.
Untuk meningkatkan cadangan operasional BBM, Kementerian ESDM akan membantu Pertamina untuk memfasilitasi pemanfaatan storage (tangki) BBM milik perusahaan lain baik BUMN maupun swasta. Tujuannya agar cadangan operasional BBM dapat meningkat dari yang saat ini hanya 18 hari menjadi minimal 30 hari.
Β
"Indonesia berjuang naikkan cadangan opesional dan strategi. Minimal jadi 30 hari. Maka dalam 3-4 tahun bisa jadi 2 kali lipat. Kalau bangun perlu waktu dan biaya. Maka bisa kerjasama memanfaatkan fasilitas terpasang milik BUMN atau swasta," ujarnya.
Seperti diketahui, cadangan operasional BBM itu adalah cadangan BBM yang ada di SPBU, tangki dan truk BBM miliki Pertamina. Sementara cadangan BBM strategis yaitu cadangan BBM yang hanya boleh digunakan bila ada keadaan darurat seperti bencana alam besar atau perang.
(feb/rrd)











































