Ada temuan mengejutkan pemerintah dan Pertamina, terkait proses pengadaan BBM oleh Petral yang menimbulkan ketidakefisienan. Petral selama ini memang melakukan tender dalam pengadaan BBM, untuk kebutuhan di dalam negeri. Tender ini dilakukan di Singapura, tempat Petral berada.
"Ternyata kesimpulan mereka 3 bulan ini, Petral melakukan price bill up atau pembangunan harga dengan cara standar sampai ketemu diskon yang cukup signifikan. Setiap hari bisa memberikan diskon US$ 1-US$ 1,3/barel, bahkan hingga US$ 1,5/barel. Begitu dilihat di catatan Petral terdahulu sebelum manajemen baru, diskonnya hanya rata-rata 20 sen, 30 sen," kata Menteri ESDM Sudirman Said, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Jumat (15/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ruang efisiensi masih sangat lebar di masa lalu. Ada melalui diskon yang tidak dimanfaatkan secara institusi dan korporasi, entah larinya ke mana. Ini yang akan dilakukan subyek investigasi," jelas Sudirman.
Karena itu, dalam 3 bulan, dalam pengelolaan direksi baru Pertamina pimpinan Direktur Utama Dwi Soetjipto, ada penghematan US$ 22 juta dari pengadaan atau impor BBM tanpa Petral.
"Lalu pengadaan non karbon itu ketemu penghematan US$ 27 juta. Kemudian tim pemasaran memperoleh penghematan dari losses itu US$ 49 juta. Jadi dalam bulan-bulan terakhir setelah Pertamina terbentuk manajemen baru diperoleh penghematan US$ 98 juta," jelasnya.
"Ini satu progres yang sangat baik ketika urusan diurus dengan profesional dan jujur tanpa kepentingan terbukti Pertamina bisa bekerja lebih baik. dan transparan dan bermanfaat bagi masyarakat," kata Sudirman.
(dnl/rrd)











































